OJK Sebut Industri Perbankan Terus Restrukturisasi dan Konsolidasi

Angga Bratadharma    •    Sabtu, 09 Sep 2017 13:07 WIB
ojkperbankan
OJK Sebut Industri Perbankan Terus Restrukturisasi dan Konsolidasi
Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso. (FOTO: MTVN/Eko Nordiansyah)

Metrotvnews.com, Jakarta: Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebut industri perbankan terus melakukan restrukturisasi terhadap kinerja penyaluran kredit sekarang ini, termasuk melakukan konsolidasi. Bahkan, industri perbankan secara kontinu berusaha mengendalikan Non Performing Loan (NPL) atau kredit macet bermasalah agar tidak semakin liar.

"Proses restrukturisasi penyaluran kredit yang penting sekarang ini. Memang masih mengalami NPL tapi itu proses restrukturisasi yang sebagian sudah dihapus. Ini bagian dari proses restrukturisasi dan konsolidasi," ungkap Ketua Dewan Komisioner (DK) OJK Wimboh Santoso, di Jakarta, seperti diberitakan Sabtu 9 September 2017.

Wimboh tidak menampik industri perbankan masih dihadapkan pada persoalan NPL. Apalagi, harga komoditas dunia sedang turun dan memberikan efek tersendiri terhadap tingkat NPL perbankan di Tanah Air. Adapun hal itu lantaran ada banyak debitur yang dimiliki perbankan bergerak di sektor komoditas.

"Karena kemarin harga komoditas turun. Jadi NPL naik dan mulai membersihkan NPL. Di kredit komersial terkena terus dan dia reorientasi bisnis di kredit korporasi. Mereka reorientasi bisnis. Monitoring dikuatkan untuk memonitor para debitur. Diperkuat pengawasan dengan teknologi," ujar Wimboh.

Wimboh berharap aksi korporasi seperti restrukturisasi dan konsolidasi bisa selesai secepat mungkin. Hal itu dianggap penting lantaran industri perbankan memiliki peranan penting terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia. Karenanya, pengawasan terus dilakukan agar bisnis perbankan bisa positif dan kian menguat.

"Korporasi ini tidak hanya komoditas. Tapi sebagian besar (NPL) direstrukturisasi. Butuh waktu dan tahun ini diharapkan (restrukturisasi NPL) selesai. Akhir tahun diharapkan selesai. (Bank) swasta juga banyak NPL yang disclose tahun lalu," tukasnya.

Di sisi lain, OJK mendorong agar tingkat suku bunga perbankan bisa mengalami penurunan sejalan dengan turunnya BI 7 Days Repo Rate. Di sisi lain, OJK berharap langkah itu bisa memberikan efek positif terhadap tercapainya target pertumbuhan penyaluran kredit hingga akhir 2017.

Wimboh Santoso menyebut, pertumbuhan rasio kredit berada di angka delapan persen secara tahun ke tahun pada Juli 2017. Secara year to date (ytd), rasio tersebut terbilang rendah. Tidak ditampik, pada bulan dimaksud pertumbuhan kredit memang terbilang rendah.

"Pada Juli kemarin sudah lebih tinggi (penyaluran kredit) dari Juni. Di Agustus (penyaluran kredit) harapannya bisa lebih tinggi. Semester II-2017 diharapkan kinerja (industri perbankan) lebih tinggi dari semester I-2017," kata Wimboh.

Sejauh ini, lanjut Wimboh, OJK belum memerlukan suatu kebijakan tersendiri untuk mendorong penyaluran kredit. Apalagi, pembiayaan di industri pasar modal cukup tinggi. Hal seperti ini memberikan pengertian bahwa industri jasa keuangan masih menggeliat dan diharapkan bisa terus meningkat hingga akhir tahun ini.

"Tetap perlu dimonitor dari bulan ke bulan. Hemat kami belum kelihatan dan tunggu di September. Kenapa Juni turun karena hari kerja pendek, hanya 20 hari. Hari pendek mau booking kredit lebih sedikit. Di Agustus harapannya lebih tinggi (kinerja industri perbankan)," kata Wimboh.

 


(AHL)