Langkah yang Dilakukan BI dan Pemerintah dalam Menstabilkan Harga

M Studio    •    Selasa, 20 Jun 2017 07:00 WIB
bank indonesia
Langkah yang Dilakukan BI dan Pemerintah dalam Menstabilkan Harga
(Foto:Antara/Irsan Mulyadi)

Metrotvnews.com, Jakarta: Menjelang Ramadan dan Idul Fitri 2017, atau periode Mei-Juni, laju inflasi  dinilai cukup terkendali dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Laju inflasi merupakan salah satu elemen penting kondisi perekonomian sebuah negara. Inflasi perlu dikendalikan mengingat laju inflasi yang tinggi bakal menggerus daya beli, sehingga akan berdampak pada kesejahteraan masyarakat.

Data menunjukkan, laju inflasi Mei 2017 yang sebesar 0,39 mtm (month to month), masih lebih rendah dibandingkan rata-rata periode yang sama selama kurun 2012-2015 yang sebesar 0,72 persen.

Demikian pula inflasi April 2017 yang sebesar 0,09 persen mtm, lebih rendah dibandingkan rata-rata inflasi periode yang sama pada 2012-2015 yang mencapai 0,43 persen.

Jika dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (year on year/yoy), laju inflasi tercatat 4,33 persen. Hal itu meningkat dibandingkan laju inflasi April yang tercatat 0,09 persen mtm dan 4,17 persen yoy.

Peningkatan laju inflasi dipicu kenaikan tarif listrik untuk daya 900 VA nonsubsidi dalam kaitan dengan program pemerintah mereformasi subsidi energi. Selain itu, juga disebabkan harga barang dan jasa yang mulai meningkat seiring dengan bulan puasa Ramadan. Secara kumulatif, laju inflasi periode Januari-Mei 2017 (year to date/ytd) mencapai 1,67 persen.

Demikian pula laju inflasi kelompok volatile food (VF) pada Mei 2017 yang tercatat 0,91 persen mtm, jauh di bawah rata-rata inflasi VF periode yang sama selama 2012-2015 yang tercatat 1,85 persen. Sedangkan, pada April 2017 justru terjadi deflasi 1,26 persen pada kelompok VF, dibandingkan rata-rata inflasi VF pada periode yang sama tahun 2012-2015 yang tercatat 1,01 persen.

Pada Juni 2017, laju inflasi diperkirakan kembali meningkat karena faktor meningkatnya konsumsi masyarakat selama Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri. Namun, proyeksi laju inflasi untuk keseluruhan tahun 2017 masih terkendali dalam kisaran target 4 persen +/- 1 persen. Untuk target inflasi inti tahun ini di kisaran 3-4 persen yoy, inflasi kelompok VF di kisaran 4-5 persen yoy, dan laju inflasi kelompok komponen harga barang dan jasa yang diatur pemerintah (administered price/AP) di kisaran 7-8 persen yoy.


Langkah Stabilisasi

Laju inflasi yang tetap terkendali tersebut terjadi berkat dukungan dan sinergi pemerintah bersama Bank Indonesia (BI), baik di tingkat pusat maupun daerah, untuk menstabilkan harga dan menjaga kecukupan pasokan.

Sinergi yang dilakukan berupa empat langkah kebijakan yang ditempuh Kementerian Perdagangan untuk menghadapi Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) yang meliputi penguatan regulasi, penatalaksanaan, pemantauan dan pengawasan, serta upaya khusus.

Langkah yang konkret yang telah dilakukan antara lain menetapkan harga eceran tertinggi (HET) untuk komoditas gula sebesar Rp 12.500/kg, minyak goreng kemasan sederhana Rp 11.000/liter, dan daging beku maksimal Rp 80.000/kilogram. HET itu berlaku di pasar ritel modern.

Selain itu, stabilisasi harga saat HBKN juga dilakukan oleh Kementerian Pertanian, melalui upaya antara lain optimalisasi Toko Tani Indonesia (TTI), pelaksanaan operasi pasar dan pasar murah, serta memenuhi kekurangan pasokan bahan pangan seperti daging sapi.

Khusus menyangkut TTI, pembentukannya sejak 2016 dimaksudkan untuk melindungi produsen dari anjloknya harga, dan pada saat bersamaan juga melindungi konsumen dari lonjakan harga. Dengan demikian, terwujud tata niaga pangan yang berkeadilan, baik dari sisi produsen maupun konsumen.

Sejalan dengan itu, Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) juga melakukan upaya stabilisasi harga, yang mencakup ketersediaan pasokan, keterjangkauan harga, dan kelancaran distribusi.

Contoh, di wilayah Sumatera, dilakukan optimalisasi TTI dan gerakan tanam cabai, penguatan Minang Mart untuk komoditas beras, cabai, dan telur ayam, serta menggelar pasar murah sejumlah komoditas bahan pokok.

Di wilayah Jawa, meningkatkan kapasitas dan jaringan kios referensi, operasi beras oleh Perum Bulog, pasar murah oleh Disperindag, serta stabilisasi harga beras oleh BUMD setempat.

Sedangkan, di kawasan timur Indonesia, TPID melakukan optimalisasi peran program Rumah Kita untuk memperbaiki distribusi pangan, khususnya di wilayah kepulauan, seperti Maluku. Selain itu juga diintensifkan peran TTI, serta menggelar operasi pasar dan memantau pasokan pangan.

Untuk menunjang koordinasi pengendalian inflasi, BI bersama pemerintah yang tergabung dalam Kelompok Kerja Nasional (Pokjanas) telah membangun Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional. PIHPS dimaksudkan untuk menyediakan data dan informasi pangan sebagai dasar perumusan kebijakan stabilisasi harga di pusat dan daerah, memberikan referensi harga bagi pelaku ekonomi dan konsumen secara lebih transparan, serta memperluas akses informasi sekaligus mengelola ekspektasi masyarakat.  

PIHPS menyajikan data mengenai harga di tingkat konsumen, data produksi, neraca pangan, konsumsi pangan per kapita, rata-rata harga kebutuhan, kegiatan ekspor dan impor bahan pangan, serta regulasi yang telah dikeluarkan.

Untuk lebih mengefektifkan upaya pengendalian inflasi, masyarakat juga memiliki peran penting, khususnya untuk menjaga stabilitas harga. Upaya yang bisa dilakukan masyarakat, antara lain berbelanja secara bijak sesuai kebutuhan, tidak menimbun barang dan bahan makanan, berbelanja dengan terlebih dulu membandingkan harga agar diperoleh harga terbaik, serta berusaha mencari barang substitusi jika barang yang hendak dibeli ternyata mengalami kenaikan harga.


(ROS)

The Fed Naikkan Suku Bunga AS

The Fed Naikkan Suku Bunga AS

1 day Ago

Federal Reserve AS atau bank sentral AS pada akhir pertemuan kebijakan dua harinya pada Rabu wa…

BERITA LAINNYA