Polemik Freeport, BRI Kehilangan Potensi Pendapatan Rp1 Miliar

   •    Jumat, 17 Mar 2017 13:42 WIB
freeport
Polemik Freeport, BRI Kehilangan Potensi Pendapatan Rp1 Miliar
Ilustrasi BRI (ANTARA FOTO/Rosa Panggabean)

Metrotvnews.com, Timika: Krisis PT Freeport Indonesia sejak Februari 2017 berdampak pada Bank Rakyat Indonesia (BRI) Kantor Cabang Timika, Papua. Bank pemerintah itu kehilangan potensi pendapatan sekitar Rp1 miliar per bulan.

Kepala BRI Cabang Timika Muhammad Yusuf mengatakan setiap bulan pertumbuhan rata-rata penyaluran kredit BRI Timika sebesar Rp1,5 miliar hingga Rp2 miliar, terutama kredit tanpa agunan dari karyawan perusahaan privatisasi (perusahaan yang mengelola aset Freeport) dan perusahaan subkontraktor Freeport.

"Peningkatan pinjaman rata-rata perbulan di BRI Timika sekitar Rp1 miliar. Kesimpulannya, kalau dua bulan kami hentikan pemberian pinjaman kepada karyawan maka kami sudah kehilangan potensi pendapatan sekitar Rp2 miliar," kata Yusuf, Jumat 17 Maret 2017.

Sejak awal Februari, BRI Timika menempuh kebijakan seleksi ketat pemberian kredit baru kepada karyawan perusahaan privatisasi dan subkontraktor PT Freeport. Dalam perjalanan waktu, karena kondisi Freeport tidak juga membaik bahkan dinyatakan dalam kondisi force major, BRI memutuskan menghentikan seluruh pemberian pinjaman kepada karyawan sejak pertengahan Februari.

Yusuf mengatakan, BRI Timika cukup khawatir dengan semakin banyaknya karyawan perusahaan privatisasi dan kontraktor Freeport yang mengalami pemutusan hubungan kerja. Semakin banyak karyawan yang di-PHK, BRI kehilangan aset yang produktif.

"Kami tidak khawatir soal pinjaman dilunasi atau tidak. Ketika karyawan di-PHK, tentu mereka akan menerima pesangon, di mana pesangon yang mereka dapatkan cukup besar sehingga bisa langsung melunasi sisa cicilan kredit. Tapi setelah itu mereka tidak produktif lagi karena kehilangan pekerjaan dan sumber pendapatan," jelas Yusuf.

Menurut dia, BRI Timika justru sangat mengkhawatirkan kondisi karyawan yang sekarang dinyatakan dirumahkan. Posisi karyawan dengan status forelock, katanya, tidak jelas akan dipekerjakan kembali atau akan diberhentikan seterusnya.

Dalam situasi ketidakpastian tersebut, BRI mengharapkan PT Freeport dan perusahaan-perusahaan subkontraktornya membuka diri untuk membagi data karyawan yang telah dirumahkan dan di-PHK. Dengan data tersebut, bank bisa melakukan berbagai langkah, mengantisipasi kemungkinan kredit bermasalah.

"Kami tidak menutup mata dengan kondisi yang ada. Kami juga memahami situasi ini dan merasakan kesulitan yang dihadapi karyawan yang di-PHK dan dirumahkan," ujarnya.

Sesuai laporan dari PT Freeport, hingga Rabu 15 Maret, total karyawan Freeport dan perusahaan subkontraktornya yang telah dirumahkan dan di-PHK mencapai 3.340 orang. Proses ini diprediksi terus berlanjut mengingat Freeport kini hanya bisa memasok 40 persen produksi konsentratnya ke pabrik smelter PT Smelting di Gresik, Jawa Timur. (Antara)


(TRK)