Melemahnya Rupiah jadi Teguran untuk Kurangi Impor

Ilham wibowo    •    Kamis, 06 Sep 2018 16:43 WIB
impor
Melemahnya Rupiah jadi Teguran untuk Kurangi Impor
Direktur Strategi dan Kepala Makro Ekonomi Bahana TCW Budi Hikmat. Medcom/Ilham WIbowo.

Jakarta: Melemahnya nilai tukar mata uang rupiah terhadap dolar dinilai perlu dipahami bersama untuk menjaga perekonomian negara. Direktur Strategi dan Kepala Makro Ekonomi Bahana TCW Budi Hikmat menilai fenomena ini perlu dimanfaatkan untuk mengerem 'kecanduan' barang impor. 

"Pelemahan rupiah itu sebenarnya obat supaya kita tidak terkena krisis utang, karena ketika orang melihat ada currency risk, pasti akan hati-hati berutang," ujar Budi dalam sebuah diskusi di Gedung Graha CIMB Niaga, Jakarta, Kamis, 6 September 2018. 

Besaran nilai tukar mata uang terhadap USD yang terjadi bukan menjadi patokan saat dibandingkan dengan krisis moneter Tanah Air pada 1998. Menurut Budi, krisis terjadi karena banyak perusahaan dan bank meminjam valas jangka pendek untuk biayai proyek rupiah jangka panjang. 

"Krisis itu selalu dimulai dari pesta yang dibiayai utang. Paling tidak ditunjukkan oleh penyaluran kredit yang per tahun bisa naik 25-30 persen, angka ini sangat besar dan berisiko tidak sustainable," paparnya. 

Pemerintah saat ini menganggap pelemahan rupiah sangat penting untuk bisa kembali bersaing dengan mata udang asing terutama USD. Strategi yang dilakukan dinilai tepat dengan mengurangi impor dengan memperbanyak pasokan ekspor. 

Pengurangan produk impor juga bisa diaplikasikan masyarakat dengan mengubah gaya hidup yang cenderung konsumtif. Menunda pembelian kendaraan dan elektronik misalnya, sedikit banyak dapat membawa dampak yang baik untuk perekonomian negara. 

"Rumusnya sederhana, impor butuh valas, ekspor hasilkan valas, kalau impor lebih besas dari ekspor ya berarti kita butuh valas banyak," bebernya. 

Ia meyakini nilai mata uang rupiah tak akan pernah naik dengan seketika bila tak diimbangi dengan produktivitas perekonomian. Terlebih, kondisi ini juga diperparah dengan penguatan dolar secara bersamaan. 

"Kondisi sekarang bukan mengarah ke krisis yang  fatal, tapi teguran buat kita bangun dan memperbaiki diri walaupun defisit per GDP lebih rendah," pungkas dia. 





(SAW)