Pangkas Ketergantungan Impor, Ewindo-Salim Grup Gelontorkan Investasi Rp100 Miliar

Husen Miftahudin    •    Jumat, 25 Nov 2016 07:55 WIB
pertanian
Pangkas Ketergantungan Impor, Ewindo-Salim Grup Gelontorkan Investasi Rp100 Miliar
Ilustrasi. (Foto: Antara/Akbar Tado).

Metrotvnews.com, Jakarta: PT Benih Anugrah Sempurna (Ewindo Grup) bersama PT Indo Hortikultura Sejahtera (Salim Group) membentuk perusahaan patungan (Joint Venture) yang nantinya perusahaan itu berorientasi pada peningkatan hasil benih kentang berkualitas. Sinergi kedua perusahaan tersebut diharapkan mampu mengurangi ketergantungan impor benih kentang.

Managing Director Ewindo Grup, Glenn Pardede mengungkapkan, kemitraan strategis dengan membentuk perusahaan patungan itu diharapkan mempu memproduksi benih kentang yang berkualitas berdasar pada riset dan teknologi yang digunakan. Investasi yang dibutuhkan untuk joint venture kedua perusahaan tersebut menelan hingga sebanyak Rp100 miliar.

"Benih yang diproduksi nantinya diharapkan mampu mengurangi ketergantungan impor benih kentang dan petani dapat memperoleh benih kentang berkualitas agar dapat mendorong kesejahteraan petani kentang di Indonesia. Perusahaan baru ini akan mencapai produksi jangka panjang hingga memenuhi sekitar 30 persen dari total kebutuhan benih kentang nasional," ujar Glenn dalam keterangan tertulis, Jakarta, Jumat (25/11/2016).

Dia mengakui bahwa petani Indonesia saat ini tengah menghadapi persoalan keterbatasan benih berkualitas. Dengan adanya pemanfaatan teknologi tinggi, riset dan pengembangan ini diharapkan akan dapat meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan petani kentang.

"Bukan hanya riset dan teknologi, perusahan ini juga melakukan pengembangan produksi sampai ke pemasaran benih kentang" tegas Glenn.

Perwakilan Salim Grup, Koh Boon Hock menambahkan, joint venture ini bertujuan untuk menciptakan sebuah rantai pasok yang berkelanjutan agar tercipta lingkungan, tanaman dan sumber pangan yang lebih baik guna meningkatkan kesejahteraan petani, masyarakat dan pihak berkepentingan lainnya.

"Penggunaan bibit berkualitas mempunyai peranan yang sangat menentukan dalam usaha meningkatkan produksi dan mutu hasil. Saat ini, kebutuhan benih kentang nasional mencapai 300 ribu ton per tahun dengan nilai sekitar Rp3 triliun," tutur dia.

Kebutuhan tersebut, ungkapnya, sebagian besar masih disuplai oleh benih dengan kualitas rendah. Hal ini menyebabkan produktivitas petani kentang di Indonesia hanya 15-17 ton per hektar (ha). Sebagai pembanding, di Eropa produksi petani kentang bisa sebanyak 50 ton per ha.

"Diharapkan kerja sama ini dapat meningkatkan produktivitas petani kentang menjadi 25 ton per hektar. Juga tingkat konsumsi kentang orang Indonesia dari 4,7 kg per kapita per tahun menjadi 10 kg per kapita per tahun setara Tiongkok," tutup Hock.
 


(HUS)