Peningkatan IPM Indonesia di Tengah Tingginya Ketimpangan

Eko Nordiansyah    •    Senin, 17 Apr 2017 16:32 WIB
kesenjangan sosial
Peningkatan IPM Indonesia di Tengah Tingginya Ketimpangan
Kepala BPS Suhariyanto. MTVN/Eko Nordiansyah.

Metrotvnews.com, Jakarta: Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia mengalami kenaikan. Pada 2016, IPM tercatat sebesar 0,91 persen atau meningkat 0,63 poin, dari 69,55 di 2015 menjadi 70,18 pada tahun 2016.

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, Angka IPM kita secara periodik dari 2010-2016 cukup menggembirakan, IPM 2016 mencapai 70,18, meningkat 3,65 poin dibanding tahun 2010. Selama periode 2010-2016 tersebut, IPM Indonesia rata-rata tumbuh sebesar 0,91 persen per tahun. 

"Selama periode 2010 hingga 2016, IPM Indonesia menunjukkan kemajuan yang besar, status pembangunan manusia Indonesia mengalami peningkatan. Saat ini, pembangunan manusia Indonesia telah berstatus tinggi, sementara selama periode 2010 hingga 2015 pembangunan manusia Indonesia hanya berstatus sedang," ujarnya di Kantor Pusat BPS, Jalan Dr Sutomo, Jakarta Pusat, Senin 17 April 2017.

Komponen pembentuk IPM juga mengalami peningkatan terlihat dari indeks angka harapan hidup untuk bayi yang baru lahir meningkat 0,12 tahun dibanding tahun sebelumnya menjadi 70,90 tahun. Peluang bersekolah anak-anak usia 7 tahun juga meningkat 0,17 tahun dibanding tahun 2015 menjadi 12,72 tahun.

Sementara itu, rata-rata lama sekolah penduduk usia 25 tahun ke atas meningkat 0,11 tahun dibanding tahun sebelumnya atau secara rata-rata telah menempuh pendidikan selama 7,95 tahun. Hal ini berbanding lurus dengan peningkatan pengeluaran per kapita masyarakat yang telah mencapai Rp10,42 juta pada tahun 2016, atau meningkat Rp270 ribu dibanding tahun sebelumnya.

IPM terendah ada di Provinsi Papua, yakni 58,05, dan tertinggi ada di DKI Jakarta, sebesar 79,60. Sedangkan pada dimensi umur panjang dan hidup sehat, angka harapan hidup saat lahir terendah ada di Sulawesi Barat 64,31 tahun, dan tertinggi ada di DI Yogyakarta 74,71 tahun.

Untuk dimensi pengetahuan, harapan lama sekolah terendah ada di Provinsi Papua, 10,23 tahun, sedangkan tertinggi ada di DI Yogyakarta selama 15,23 tahun. Provinsi Papua juga menjadi provinsi dengan pengeluaran per kapita terendah, sebesar Rp6,6 juta per tahun, dan DKI Jakarta menjadi yang tertinggi dengan Rp17,5 juta per tahun. 

"Sepanjang 2016, pencapaian pembangunan manusia di tingkat provinsi cukup bervariasi. Disparitas IPM antar-provinsi masih tinggi sekali, ketimpangan masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi pemerintah Indonesia," pungkas dia.



(SAW)