Industri Unggas Diminta Ikut Hidupkan Peternak

Angga Bratadharma    •    Kamis, 29 Nov 2018 18:49 WIB
peternakan
Industri Unggas Diminta Ikut Hidupkan Peternak
Ilustrasi. (FOTO: Medcom.id/Patricia Vicka)

Jakarta: Upaya pemerintah dalam menyelamatkan peternak mandiri harus terus dilakukan. Salah satu yang bisa dilakukan adalah dengan memberi pendampingan dan penyuluhan mulai dari hulu sampai hilir.

Yang baru, semua industri unggas diwajibkan supaya terintegrasi dan menjual 50 persen dari total produksi anak ayam (DOC) kepada para peternak mandiri, sebagai realisasi program bekerja dalam upaya pengentasan kemiskinan.

Langkah ini diambil untuk mengetahui kemungkinan adanya persoalan lain, baik pakan maupun urusan produksi. Kebijakan juga sudah sesuai dengan Permentan Nomor 26 Tahun 2016 tentang Penyediaan, Peredaran, dan Pengawasan Ayam Ras.

Ketua Gabungan Pengusaha Makanan Ternak (GPMT) Desianto B Utomo mengapresiasi langkah tersebut. Menurut dia, program itu mampu mendorong peternak mandiri untuk meningkatkan angka produksi.

Hitung-hitungan di atas kertas bahkan mencatat adanya keuntungan besar bagi para peternak. Sebab, saat ini sedang terjadi penambahan populasi ayam dan bonus demografi usia produktif yang kemungkinan mulai muncul di tahun depan.

Dengan demikian, Desianto optimistis industri pakan ternak bisa tumbuh hingga delapan persen dengan kisaran kenaikan 1,5 persen. Menurut dia, angka tersebut masih realistis mengingat permintaan daging ayam ras tahun ini mencapai 3,05 juta ton.

"Apalagi, momentum kampanye sedikit banyak pasti berimbas pada industri peternakan terutama unggas. Permintaan telur dan daging ayam pasti melonjak terutama pada Maret-April 2019. Sebab orang kampanye itu butuh nasi kotak dan isinya pasti telur atau ayam," ujar Desianto, seperti dikutip dari keterangan resminya, Kamis, 29 November 2018.




Kementerian Pertanian (Kementan) pun kembali melanjutkan program pengembangan peternakan unggas lokal yang berbasis sumber daya genetik negeri sendiri. Program ini diharapkan mampu membantu Rumah Tangga Miskin (RTM), melalui ternak unggas lokal sebanyak 10 juta ekor sejak Agustus sampai pertengahan Desember 2018.

Bahkan, di 2019 Kementan akan melanjutkan penyediaan sebanyak 20 juta ekor unggas dengan anggaran Rp2 triliun.

Menanggapi hal ini, Ketua Himpunan Peternak Unggas Lokal Indonesia (Himpuli) Ade M Zulkarnain mengatakan kebijakan Kementan adalah bukti dukungan dan komitmen dalam mengembangkan peternakan di pedesaan yang berbasis unggas lokal, baik ayam maupun itik.

"Kami berterima kasih serta sangat mengapresiasi dan akan memberikan dukungan sepenuhnya untuk mewujudkan sekaligus menyukseskan program tersebut," kata Ade.

Program Bekerja yang bertujuan meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan keluarga miskin ini adalah kelanjutan dari program yang sama pada tahun ini. Sejak Agustus 2018, Kementan telah membagikan hampir 10 juta ekor ayam lokal dan itik di 10 provinsi.

Setiap RTM menerima 50 ekor ayam lokal yang tujuannya untuk diternakkan sehingga mereka bisa mendapat penghasilan tambahan. Keberhasilan ini juga sekaligus menepis keraguan sebagian kalangan peternak, terutama untuk penyediaan ternaknya.

"Himpuli telah mengonsolidasikan peternak-peternak unggas lokal supaya bisa memenuhi kebutuhan Program Bekerja Kementan," pungkasnya.


(AHL)


Solusi Rangkap Jabatan BP Batam Dinilai Melanggar UU

Solusi Rangkap Jabatan BP Batam Dinilai Melanggar UU

3 days Ago

Keputusan pemerintah melebur BP Batam ke Pemerintah Kota Batam mendapat respons dan tanggapan b…

BERITA LAINNYA