Data Real-Time Bisa Mempercepat Langkah Kebijakan BI

Ilham wibowo    •    Senin, 07 Jan 2019 19:45 WIB
bank indonesiabig data
Data <i>Real-Time</i> Bisa Mempercepat Langkah Kebijakan BI
Illustrasi. MI/Usman Iskandar.

Jakarta: Bank Indonesia (BI) memproyeksikan penerapan Sistem Informasi Monitoring Devisa Terintegrasi Seketika (Simodis) bisa menyerap data secara detail dan real time. Para eksportir maupun importir pun bakal menerima manfaat dalam kemudahan pelaporan. 

Direktur Eksekutif Kepala Departemen Pengelolaan dan Kepatuhan Laporan BI Farida Peranginangin mengatakan kerja sama pemanfaatan dan pemantauan yang terintegrasi informasi devisa terkait kegiatan ekspor dan impor telah disepakati melalui Sistem Informasi Monitoring Devisa Terintegrasi Seketika (Simodis) telah dilakukan bersama Kementerian Keuangan (Kemenkeu). 

Secara teknis, aliran dokumen, aliran barang dan aliran uang akan terintegrasi melalui dokumen ekspor dan impor dari Direktorat Jenderal Bea Cukai (DJBC) dan data NPWP dari Direktorat Jenderal Pajak (DJP). Pelibatan data incoming ekspor dan outgoing impor dari financial transaction messaging system dan bank devisa juga dilakukan. 

"Sekarang ini kualitas data lebih terkini, lebih akurat supaya kami betul-betul komplit saat menentukan kebijakan. Kami sudah mulai nih data devisa hasil ekspor dikirim harian," ujar Farida di kantornya, Jakarta, Senin, 7 Januari 2019. 

Pengembangan sistem yang masuk dalam tahap satu ini bakal disempurnakan pengaplikasiannya pada 2019 ini. Selain pemberitahuan ekpor barang (PEB), pemantauan data juga dilakukan untuk pemberitahuan impor barang (PIB). 

"Nantinya impor juga harian, kalau data PEB dan PIB harian data arus uangnya juga harus lebih kini. Kami ingin real-time terkait dengan ekspor dan impor untuk kami cocokan PEB dan PIB-nya," ungkapnya.

BI memastikan sistem baru ini punya kelebihan memudahkan eksportir maupun importir melakukan pelaporan dokumen lantaran dilakukan secara online. BI juga menjanjikan bakal memangkas ketentuan data yang wajib diberikan untuk diketahui negara. 

"Sekarang itu ada empat laporannya terkait devisa ekspor.  Nanti diharapkan lebih simpel, itu janji kami. Sekarang sedang dikerjakan akhir Desember  2019, sudah selesai semuanya tahap satu," pungkasnya. 


(SAW)