BI Pelajari Blockchain untuk Kemungkinan Penerbitan Mata Uang Digital

Eko Nordiansyah    •    Sabtu, 03 Feb 2018 08:41 WIB
bank indonesia Blockchain
BI Pelajari Blockchain untuk Kemungkinan Penerbitan Mata Uang Digital
Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo. (FOTO: medcom.id/Eko Nordiansyah)

Jakarta: Bank Indonesia (BI) sedang mempelajari keuntungan sistem blockchain yang merupakan sistem di balik mata uang digital (digital currency) seperti bitcoin. Langkah ini dilakukan oleh bank sentral untuk membuka kemungkinan penerbitan mata uang digital bank sentral (CBDC).

"Blockchain itu akan kita dalami, kemungkinan digunakan bank sentral dalam penerbitan uang digital. Jadi ini akan terjaga oleh otoritas yang jelas dan menggunakan teknologi mutakhir," kata Gubernur BI Agus Martowardojo ditemui di Kompleks Perkantoran BI, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Jumat, 2 Februari 2018.

Dirinya menambahkan, rupiah digital nantinya akan berbeda dengan cryptocurrency lainnya yang tengah marak di masyarakat. Pasalnya bank sentral akan tetap menjadi otoritas yang bertanggung jawab dengan penerbitan rupiah digital sama seperti uang rupiah yang ada sekarang.

"Sekarang ini kita ada uang rupiah dalam bentuk banknotes, nanti akan ada rupiah dalam bentuk digital. Dan uang digital itu yang menjadi administrator, yang menjadi pengelola tetap bank sentral dan ini adalah resmi," jelas dia.

Hal ini tentu berbeda dengan digital currency lainnya, yang tidak memiliki otoritas penanggung jawab sehingga rentan disalahgunakan. Tak hanya itu, volatilitas bitcoin dan sejenisnya dinilai tinggi sehingga tidak menjamin perlindungan konsumen.

Sebelumnya, Kepala Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran ‎BI Onny Widjanarko menyebut butuh waktu hingga dua tahun untuk mempelajari blockchain. Pasalnya butuh kehati-hatian serta ketelitian agar tidak menimbulkan masalah di kemudian hari.

"Di pipeline kita selesai dua tahun. Mungkin di 2020 dari sekarang baru bisa. Jadi kita harus teliti dulu apakah betul gampang menerbitkan digital currency ini, kita harus teliti dari berbagai sisi," kata Onny.




Sementara itu, Chairwoman of the Board of Directors Blockchain Zoo Pandu W Sastrowardoyo mengatakan menciptakan rupiah dalam bentuk digital sangat dimungkinkan. Apalagi dengan memanfaatkan sistem blockchain yang selama ini sudah digunakan oleh virtual currency.

"Sebenarnya blockchain itu dari awal diciptakan untuk digital currency, jadi kalau rupiah mau jadi digital currency itu suatu yang cocok. Karena memang digitasi dari aset itu kekuatan utama dari blockchain," ujar Pandu.

Pihaknya bahkan telah beberapa kali bertemu dengan bank sentral membahas mengenai teknologi blockchain. Namun dari pertemuan itu tidak membahas secara spesifik mengenai rencana BI untuk menerbitkan rupiah digital sebagaimana virtual currency lainnya.

Bahkan, Pandu menjamin keamanan jika rupiah digital diterbitkan melalui sistem blockchain. Terkait dengan kemungkinan terjadinya penambangan (mining) terhadap rupiah seperti bitcoin bisa dicegahdengan menghapuskan fitur tersebut.

"Karena dengan blockchain kita bisa mematikan fungsi mining, itu sangat mudah. Kalau kita punya blockchain itu bisa kita matikan satu fitur. Rupiah dalam blockchain itu mudah diciptakan dan bisa jauh lebih murah dari sistem biasa untuk menciptakan rupiah misal seperti e-money," pungkasnya.


(AHL)