Keyakinan Konsumen Bisa Mengokohkan Stabilitas Ekonomi

   •    Kamis, 05 Oct 2017 15:56 WIB
pertumbuhan ekonomi
Keyakinan Konsumen Bisa Mengokohkan Stabilitas Ekonomi
Ilustrasi. (FOTO: MI/RAMDANI)

Metrotvnews.com, Jakarta: Research Analyst FXTM Lukman Otunuga mengatakan meningkatnya keyakinan konsumen di Tanah Air dapat memiliki dampak sangat positif dalam rangka mengokohkan kondisi stabilitas perekonomian nasional.

"Sentimen terhadap ekonomi Indonesia dapat semakin membaik apabila laporan keyakinan konsumen September mengisyaratkan peningkatan stabilitas ekonomi," kata Lukman Otunuga, di Jakarta, seperti dikutip dari Antara, Kamis 5 Oktober 2017.

Dia mengemukakan hal tersebut terkait dengan pandangannya bahwa kalangan investor pada saat ini bersiap menyambut laporan keyakinan konsumen yang akan dirilis pada Kamis ini.

Sebelumnya, konsultan properti Colliers International menyatakan, pihak pengelola mal atau pusat perbelanjaan harus beradaptasi dengan perilaku generasi milenial sebagai salah satu potensi konsumen terbesar saat ini.

"Peritel mesti berevolusi ke lifestyle (gaya hidup) dan entertainment (hiburan), karena kebanyakan saat ini adalah generasi digital-minded," kata Senior Associate Director Retail Services Colliers International Indonesia, Steve Sudijanto.

Karena itu, ujar dia, saat ini banyak pengelola mal yang melakukan renovasi dalam rangka memuaskan keinginan para pengunjungnya. Adapun untuk tingkat global, Steve mencontohkan peritel pakaian Uniqlo di Jepang yang telah menjual produknya melalui vending machine (mesin otomat), atau di Inggris yang memiliki kompleks container park di mana seluruh toko yang ada di kawasan itu terdiri atas kontainer.

Sementara itu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan para pemangku kepentingan lainnya menyusun strategi nasional dalam rangka penguatan pemberdayaan konsumen dan masyarakat pengguna layanan jasa keuangan.

Anggota Dewan Komisioner OJK Bidang Edukasi dan Perlindungan Konsumen Tirta Segara, dalam seminar nasional di Kompleks Bank Indonesia, Jakarta, mengatakan strategi tersebut terutama menyangkut bidang literasi dan inklusi keuangan.

"Karena tanpa literasi, masyarakat tidak bisa memanfaatkan akses layanan jasa keuangan secara baik dan berpotensi ada masalah ketika sudah memiliki akses. Masyarakat yang tidak paham juga tidak akan nyaman, oleh karenanya inklusi keuangan tidak bisa berjalan secara efektif," jelas dia.

Tirta menjelaskan pemerintah telah meluncurkan cetak biru Strategi Nasional Literasi Keuangan Indonesia (SNLKI) sebagai upaya menjadikan program peningkatan literasi keuangan terstruktur dan sistematis. Di bidang inklusi keuangan, pemerintah juga telah mengeluarkan Peraturan Presiden Nomor 82 Tahun 2016 tentang Strategi Nasional Keuangan Inklusif (SNKI) yang menargetkan 75 persen masyarakat Indonesia telah menggunakan produk dan layanan keuangan di 2019.


(AHL)