Perbankan Syariah Punya Potensi Besar Dorong Pertumbuhan Ekonomi

Angga Bratadharma    •    Jumat, 08 Dec 2017 10:14 WIB
perbankan syariahbsmekonomi indonesia
Perbankan Syariah Punya Potensi Besar Dorong Pertumbuhan Ekonomi
Komisaris Utama BSM Mulya E Siregar (Foto: MTVN/Angga Bratadharma)

Garut: Perekonomian Indonesia memiliki potensi yang sangat baik untuk terus dioptimalkan dan mendukung penguatan ekonomi di masa-masa mendatang. Adapun potensi yang dimaksudkan seperti bonus demografi, Sumber Daya Alam (SDA) yang melimpah, arus investasi yang positif, dan gencarnya pembangunan infrastruktur sekarang ini.

Komisaris Utama Bank Syariah Mandiri Mulya E. Siregar membenarkan bahwa Indonesia memiliki potensi yang sangat besar dan perlu dimaksimalkan secara maksimal. Pada aspek ini, industri perbankan syariah juga memiliki peluang untuk terus tumbuh dan berkembang seiring dengan perbaikan ekonomi Indonesia.

"Selain itu, potensi Sektor Jasa Keuangan (SJK) syariah juga besar karena Indonesia sebagai muslim terbesar di dunia dan ini memberikan potensi bagi sektor jasa keuangan syariah di Tanah Air," kata Mulya, dalam Media Training Perbankan Syariah 2017, di Garut, Jawa Barat, Jumat, 8 Desember 2017.

Namun, lanjut Mulya, terdapat sejumlah tantangan yang perlu disikapi dengan baik agar tantangan itu tidak memberikan hambatan yang berarti bagi pergerakan ekonomi Indonesia. Tantangan itu perlu ditekan sedemikian rupa dalam rangka mewujudkan perekonomian yang solid dan nantinya perbankan syariah bisa berkontribusi positif terhadap perekonomian nasional.



"Dan nantinya bisa menciptakan lapangan kerja. Selain itu, tantangan lainnya adalah ada masalah yang khususnya daya saing dan produktivitas yang tidak sebaik negara tetangga di ASEAN. Kemudian di perdagangan kita mengalami perlambatan pertumbuhan ekonomi seperti Tiongkok, Eropa, dan lainnya," ujarnya.

Lebih lanjut, Mulya menambahkan, terdapat keterbatasan dana jangka panjang. Keterbatasan ini perlu diperhatikan dan dicarikan kalan keluarnya agar industri perbankan syariah bisa tumbuh lebih maksimal dan nantinya benar-benar mendukung secara signifikan pertumbuhan ekonomi Indonesia.

"Kemudian kita tahu keterbatasan dana jangka panjang. Di zaman Susilo Bambang Yudhoyono (saat menjadi Presiden RI) financing gap besar sekali. Kemudian keterbatasan infrastruktur yang sekarang ini di rezim Pak (Presiden) Joko Widodo mencoba menutup kesenjangan di infrastruktur itu," pungkasnya.

 


(ABD)