Terkendala Regulasi

Banyak Pembuat Film Asing Ingin Syuting di Indonesia

Cecylia Rura    •    Kamis, 16 Nov 2017 09:43 WIB
filmbadan ekonomi kreatif
Banyak Pembuat Film Asing Ingin Syuting di Indonesia
Kepala BKPM Thomas Lembong. (FOTO: MTVN/Husen Miftahudin).

Jakarta: Kepala Koordinasi Penanaman Modal (BPKM) Thomas Trikasih Lembong mengungkapkan banyak orang menyebut Indonesia sebagai lokasi syuting yang ideal.

Hal ini karena banyaknya tempat-tempat indah serta pemandangan yang unik di Tanah Air. Sayangnya, sarana dan ekosistem di Indonesia sangat tidak mendukung. Thomas pun memberi contoh nyata mengenai reformasi ekonomi.

"Seringkali ketika orang mendengar reformasi ekonomi mereka pikir itu adalah sesuatu yang sangat teoritis. Kebijakan ini dan itu. Bagi saya, reformasi itu hal-hal yang praktis," jelasnya dalam forum Akatara yang diselenggarakan di Hotel Grand Mercure Harmoni, Jakarta Pusat, Rabu, 15 November 2017.

Menurutnya, regulasi di Indonesia terutama soal pajak dan tenaga kerja asing masih abu-abu. Sebagai contoh, ia mempertanyakan soal regulasi para pekerja asing yang terlibat dalam proyek film di Indonesia.

"Kru untuk orang syuting banyak orang dari mancanegara, mereka mau masuk apakah perlu izin kerja? Apakah perlu KITAS (Kartu Izin Tinggal Sementara) apakah perlu KITAP (Kartu Izin Tinggal Tetap)? Ya mereka tidak mereka berniat tinggal lama di sini bertahun-tahun," ungkap Thomas.

Baginya, merupakan hal konyol ketika pekerja asing hanya tinggal selama enam minggu, namun masih harus menunggu proses KITAP selama tiga bulan. Dunia perfilman dalam sektor jasa tentu membutuhkan keikutsertaan orang asing, sehingga izin kerja perlu diperjelas, tegas, cepat dan mudah.

Selain itu, Thomas juga menyinggung soal perpajakan. Indonesia sebagai satu dari tiga negara di dunia yang menerapkan sistem global tax. Sehingga ketika pendapatan dari pembuatan film orang Indonesia dihasilkan di Inggris atau Amerika harus membayar income tax (pajak pendapatan) di Indonesia.

"Setahu saya tidak banyak negara yang menggunakan prinsip pajak seperti ini, hanya Amerika dan Indonesia," tegas Lembong.

Selain global tax, Thomas juga mengungkapkan adanya oversize income. "Pekerja tidak akan ditagih pajak oleh negara domisili karena dianggap dihasilkan di luar dan pasti akan bayar pajak di luar. Jadi ada kayak segmentasi income. Di Indonesia masih belum jelas," tukasnya.

Sebagai contoh nyata kasus Julia Roberts ketika syuting film Eat, Pray Love di Bali. Sempat ada ketakutan bagi Julia Roberts ketika dirinya harus bolak-balik setiap minggu ke Indonesia. Lembong menjelaskan, Julia yang kala itu hanya bekerja dua bulan cukup was-was jika seluruh penghasilannya di seluruh dunia akan dikenakan pajak Indonesia.

"Jangan sampai aktor-aktor dan aktris-aktris terkenal takut syuting di Indonesia. Karena bisa-bisa mereka kena pajak atas global income mereka, hanya karena syuting di Indonesia selama berbulan-bulan," imbau Lembong.


(AHL)


Solusi Rangkap Jabatan BP Batam Dinilai Melanggar UU

Solusi Rangkap Jabatan BP Batam Dinilai Melanggar UU

11 hours Ago

Keputusan pemerintah melebur BP Batam ke Pemerintah Kota Batam mendapat respons dan tanggapan b…

BERITA LAINNYA