BI Segera Atur Instrumen Bersifat Closed-Loop

   •    Rabu, 11 Oct 2017 08:29 WIB
bank indonesiatransaksi non tunaiemoneypembayaran elektronik
BI Segera Atur Instrumen Bersifat <i>Closed-Loop</i>
Ilustrasi (MI/PANCA SYURKANI)

Metrotvnews.com, Jakarta: Bank Indonesia (BI) menyatakan akan segera menerbitkan peraturan untuk alat pembayaran nontunai bersifat closed-loop atau alat yang berlaku hanya untuk membeli produk dan jasa penerbit, seperti Starbucks Card, CGV Blitz Card, dan lainnya.

Alat pembayaran seperti Starbucks Card bersifat closed-loop dan belum bisa dikategorikan sebagai uang elektronik, karena hanya bisa digunakan untuk membayar jasa atau produk dari penerbit.

"Sebentar lagi, tidak dalam hitungan bulan akan keluar peraturannya, ditunggu saja," kata Direktur Elektronifikasi Departemen Kebijakan dan Pengawasan Sistem Pembayaran BI Pungky Wibowo, di Jakarta, seperti dikutip dari Antara, Rabu 11 Oktober 2017.

Alat bayar bersifat closed-loop berbeda dengan alat bayar nontunai lainnya yang disebut uang elektronik seperti BukaDompet di Bukalapak, atau Tokocash di Tokopedia. BukaDompet dan uang elektronik lainnya dapat digunakan pengguna untuk membeli barang atau jasa dari pihak yang bukan penerbit, sedangkan alat closed-loop tidak bisa.

Pungky menjelaskan BI harus turut mengatur alat bayar closed-loop karena perkembangan alat bayar nontunai yang pesat. Alat bayar closed-loop kerap menjadi pilihan masyarakat untuk menyimpan dananya guna memudahkan pembayaran.

Oleh karena jumlah dana yang terus meningkat dalam alat bayar nontunai closed-loop, kata Pungky, BI harus membuat aturan untuk menjaga pengelolaan dana tersebut dan melindungi kepentingan konsumen. Selama ini, BI hanya meminta laporan dari penerbit alat bayar nontunai closed-loop.

Sayangnya, Pungky masih enggan membeberkan peraturan tersebut. "Tunggu saja, segera akan keluar," ujar dia.

Sebenarnya wacana, pengaturan untuk alat bayar nontunai closed-loop sudah mengemuka sejak awal 2016. BI memang harus merombak peraturan uang elektronik karena pesatnya perkembangan alat pembayaran ini.

Pada 2016, ketika wacana ini bergulir, BI berencana mewajibkan penerbit alat bayar nontunai closed-loop untuk mengajukan izin jika memiliki 300 ribu pengguna aktif. Sedangkan, bagi perusahaan penerbit alat bayar nontunai closed-loop yang pengguna aktifnya sedikit, hanya melapor ke BI. Namun, setahun berselang, wacana pengaturan tersebut belum terealisasi.


(ABD)