Indonesia Menuju Lumbung Pangan Dunia

M Studio    •    Kamis, 19 Oct 2017 08:17 WIB
berita kementan
Indonesia Menuju Lumbung Pangan Dunia
Menteri Pertanian Amran Sulaiman saat panen padi.

Metrotvnews.com, Pontianak: Daerah perbatasan merupakan bagian integral dan menjadi beranda terdepan. Kawasan ini beperan penting dan strategis dari perspektif pertahanan keamanan, ekonomi, dan sosial budaya Negara Republik Indonesia.

Hal itu disampaikan Kepala Badan Ketahanan Pangan (BKP) Kementerian Pertanian Agung Hendriadi saat membuka seminar bertema Menggerakkan Generasi Muda untuk Membangun Pertanian di Perbatasan di Kalimantan Barat, Rabu 18 Oktober 2017.

Pembicara seminar dalam rangka Hari Pangan Sedunia 2017 ini, yakni Representative for Indonesia dan Timor Leste Mark Smulders FAO, Dekan Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura Rahadian, dan Hermanto dari Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian Kementerian Pertanian.

Agung mengatakan, selama ini arah kebijakan pembangunan daerah perbatasan cenderung inward looking. Kondisi ini menyebabkan daerah perbatasan seakan tidak mendapat prioritas dalam pembangunan, terutama karena terpencil dengan aksesibilitas dan jumlah penduduk terbatas.

"Di era Pemerintahan Presiden Jokowi, sesuai  Nawacita, mulai membangun perbatasan dengan motto membangun dari pinggiran. Berbagai infrastruktur yang diperlukan mulai dibangun, terutama konektivitas untuk membuka isolasi yang ada," kata  Agung.

Dalam seminar yang dihadiri para kepala dinas, kepala badan di Provinsi Kalimantan Barat, kota dan kabupaten, civitas akademisi dan undangan lainnya, para narasumber menekankan pentingnya mengajak generasi muda terjun dan menekuni usaha pertanian. Sehingga cita-cita menjadikan Indonesia lumbung pangan dunia pada 2045 benar-benar bisa terwujud.

"Sesuai dengan Nawacita, Kementerian Pertanian telah mencanangkan Indonesia menuju lumbung pangan dunia 2045, dengan menetapkan program lumbung pangan berorientasi ekspor di wilayah perbatasan," ujar Agung di hadapan peserta seminar yang mayoritas mahasiswa.

Dalam seminar, Mark Smulders mengingatkan migrasi penduduk desa ke kota terus meningkat, sehingga berdampak pada semakin berkurangnya tenaga kerja pertanian. "Ini adalah tantangan bagi dunia dalam mencukupi kebutuhan pangan penduduk dunia, di tengah semakin berkurangnya petani karena terjadinya migrasi," kata Mark.

Sedangkan Rahadian mengatakan ada tiga peluang bagi pemuda menekuni pertanian. Pertama, tingkat pendidikan generasi muda lebih tinggi daripada generasi tua. Kedua, harga produk pertanian akan terus meningkat setelah 2017, karena kebutuhan terus meningkat. Ketiga, kebutuhan produk pertanian meningkat, diprediksi 70 persen, sampai 2050.

"Ini peluang besar bagi generasi muda untuk terjun di bidang pertanian," tegas Rahadian.

Sedangkan Hermanto menjelaskan, untuk membangun daerah perbatasan, peranan generasi muda sangat strategis. Generasi muda bisa mendorong pertumbuhan ekonomi untuk mengurangi kesenjangan kesejahteraan antarwilayah dan antarpendapatan masyarakat di perbatasan.


(TRK)