Tanpa Modal, Ratu Prabu Gandeng Kontraktor Tiongkok untuk Garap LRT

Dian Ihsan Siregar    •    Selasa, 09 Jan 2018 20:57 WIB
proyek lrt
Tanpa Modal, Ratu Prabu Gandeng Kontraktor Tiongkok untuk Garap LRT
Light rail transit ( LRT) di kawasan Kelapa Gading. Antara/Adimaja.

Jakarta: PT Ratu Prabu Energi Tbk (ARTI) berencana membangun LRT Jabodetabek sekitar 400 kilometer (km) yang akan menelan dana hingga USD30 miliar atau setara Rp405 triliun. Padahal aset perusahaan hanya mencapai Rp2,5 triliun, dengan tingkat ekuitas Rp1,73 triliun.

Untuk merealisasikannya, ‎Presiden Direktur Ratu Prabu Energi Burhanuddin Bur Maras mengatakan, perseroan mulai menawarkan proyek tersebut ke beberapa kontraktor di banyak negara, seperti Jepang, Korea Selatan, dan Tiongkok.

"Saya mencarikan dana sumber dana. Proyek ini saya tawarkan ke tiga negara Jepang, Korea dan Tiongkok. Dan tiga-tiganya mau, antusias,"‎ kata Burhanudin Bur Maras di Jakarta, Selasa, 9 Januari 2018.

Dia mengungkapkan, dari tiga negara yang ditawarkan, negeri Tirai Bambu memberikan respons yang sangat cepat. Sebab, dalam kurun waktu seminggu Tiongkok sudah merespons tawaran dari Ratu Prabu. Hingga saat ini, bilang dia, Jepang dan Korea Selatan masih belum kurun memberi balasan.

"‎Kita bicara tiga ini, tiba-tiba Tiongkok membalas dengan tertulis kami sanggup dan menyediakan dananya. Cuma seminggu udah balas. Karena dia takut keduluan Jepang," jelasnya.

Dia mengaku, ‎kontraktor dari Tiongkok sudah melakukan pembicaraan dengan pihak Exim Bank of China. Bahkan, Exim Bank of China langsung menyatakan kesediaannya untuk membiayai proyek dengan nilai fantastis tersebut.

Lanjut dia, perseroan tidak mengeluarkan dana investasi sama sekali dalam menjalani proyek LRT tersebut dan tidak memberikan dana sama sekali ke Exim Bank of China.

"Mereka sudah bicara dengan Exim Bank of china itu mendukung. Malah dia bisikan lagi kalau Exim Bank pinjamkan uang dia tak memerlukan equity itu capital dari saya. Jadi no capital. Semua pinjam 100 persen," papar dia.

Tak hanya dari Tiongkok, ‎menurut dia, perseroan pun akan membentuk konsorsium dengan beberapa perusahaan lokal. Pastinya, manajemen akan menggandeng salah satu perusahaan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), yakni PT Jakarta Propertindo (Jakpro) demi meyukseskan impian pembangunan LRT sepanjang 200 km.‎

"Nanti kita juga buat konsorsium untuk membangun LRT. Ya kalau misalnya pemerintah tunjuk Jakpro untuk ikut. Kalau tidak ya kita jalan sendiri gak masah," tegas dia.

Untuk studi kelayakan dan lainnya, dia menambahkan, perseroan juga ‎telah menggandeng konsultan asal Amerika Serikat (AS), yakni Bechtel Corporation.‎ Dia mengharapkan, proyek LRT sudah bisa berjalan di 2020.

"‎Semoga proses perizinan dan restu dari pemerintah sudah selesai dalam waktu satu setengah tahun," tukasnya.


 


(SAW)


Solusi Rangkap Jabatan BP Batam Dinilai Melanggar UU

Solusi Rangkap Jabatan BP Batam Dinilai Melanggar UU

1 day Ago

Keputusan pemerintah melebur BP Batam ke Pemerintah Kota Batam mendapat respons dan tanggapan b…

BERITA LAINNYA