Kurangnya Informasi Jadi Hambatan Bisnis Tiongkok dan Indonesia

   •    Rabu, 30 Nov 2016 19:07 WIB
indonesia-tiongkok
Kurangnya Informasi Jadi Hambatan Bisnis Tiongkok dan Indonesia
Tiongkok. AFP PHOTO/ISAAC LAWRENCE.

Metrotvnews.com, Beijing: Duta Besar RI untuk Tiongkok dan Mongolia Soegeng Rahardjo mengatakan Indonesia dan Tiongkok harus meningkatkan pemahaman tentang kedua pihak, untuk memaksimalkan kerja sama investasi dan perdagangan kedua negara. Selama ini masih minim informasi di antara kedua belah pihak. 

"Salah satu persoalan utama dalam kerja sama RI-RRT adalah kurangnya informasi antara kedua pihak, terutama di bidang perdagangan dan investasi," katanya pada pertemuan bisnis bertema Investasi dan Perdagangan di Indonesia di Beijing dikutip dari Antara, Rabu (30/11/2016). 

Soegeng menuturkan pemangku kepentingan di Indonesia masih banyak yang belum sepenuhnya paham perkembangan ekonomi di Tiongkok, dan dampak positifnya kepada masyarakat setempat dan kawasan.

"Di sisi lain, masyarakat Tiongkok sebagian besar hanya mengenal Indonesia sebagai negara kepulauan yang indah, bukan sebagai negara dengan perekonomian terbesar di Asia Tenggara ataupun sebagai salah satu kekuatan ekonomi G-20," tambah Soegeng. 

Ia mengatakan, melalui pelaksanaan forum tersebut diharapkan dapat menjadi salah satu sarana untuk menjembatani permasalahan tersebut.

Sekjen China Top 500, Huang Jun menyampaikan Indonesia dan Tiongkok merupakan dua negara besar yang sedang berkembang dengan karakteristik ekonomi yang sangat komplementer sifatnya.

"Selain itu, Tiongkok dan Indonesia saat ini tengah mengarungi fase penting dalam pembangunan. Hal tersebut tentunya membutuhkan kerja sama yang erat khususnya di bidang perdagangan dan investasi," imbuhnya.

Pada pertemuan bisnis yang digagas KBRI Beijing bekerja sama dengan China Top 500 Foreign Trade Enterprises Club tersebut, Dubes Soegeng memberikan gambaran perekonomian Indonesia dan kecenderungannya pada 2017, serta peluang investasi di berbagai sektor kepada para peserta.

Pertemuan bisnis tersebut dihadiri 80 tamu undangan dari kalangan pimpinan dan perwakilan dari 53 perusahaan di Beijing maupun dari wilayah sekitarnya seperti Qingdao, Tianjin, Henan dan Hebei.

Data BKPM menunjukkan realisasi investasi Tiongkok sepanjang semester I-2016 mencapai USD1,01 miliar, terdiri dari 519 proyek investasi. Realisasi tersebut sudah melebihi total realisasi investasi Tiongkok pada 2015 senilai USD628,3 juta.

Beberapa realisasi investasi besar dari Tiongkok di Indonesia adalah PT Sulawesi Mining Investment yang menanam yang mendirikan pabrik smelter nikel di Morowali, FT Virtue Dragon Nickel Industry di bidang pengolahan feronikel di Konawe, Sulawesi Tenggara dan pabrik semen Anhui Conch di Papua.





(SAW)