Indef Perkirakan Rupiah Terus Tertekan hingga Akhir 2018

Dian Ihsan Siregar    •    Sabtu, 08 Sep 2018 13:55 WIB
pertumbuhan ekonomirupiah melemahkurs rupiahekonomi indonesia
Indef Perkirakan Rupiah Terus Tertekan hingga Akhir 2018
Ilustrasi (MI/ROMMY PUJIANTO)

Jakarta: Institute for Development of Economics and Finance (Indef) memperkirakan nilai tukar rupiah akan terus melemah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) hingga akhir 2018. Hal tersebut sejalan dengan keputusan Federal Reserve yang berencana menaikkan kembali suku bunga acuan sehingga pemerintah perlu mengantisipasi agar rupiah tidak melemah signifikan.

"Rupiah masih akan hadapi guncangan. Di akhir September akan ada kenaikan suku bunga Fed dan di akhir Desember akan naik lagi. Jadi masih sampai akhir tahun rupiah mengalami gejolak," ‎ucap E‎konom Indef Bhima Yudhistira, dalam Diskusi Polemik MNC Trijaya bertajuk '‎Jurus Jitu Jagain Rupiah' di Warung Daun, Jakarta, Sabtu, 8 September 2018.

Jika melihat penutupan perdagangan Jumat, 7 September 2018‎, nilai tukar rupiah mampu menguat tipis. Mengutip Bloomberg, rupiah ditutup ke level Rp14.820 per USD. Sedangkan menurut Yahoo Finance, rupiah ditutup di Rp14.605 per USD, dan menurut ‎kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dolar Rate (Jisdor), rupiah tercatat pada posisi Rp14.884 per USD.

‎"Melihat penutupan rupiah yang juga masih di kisaran Rp14.800-an maka ada kesempatan rupiah akan kembali menyusut lagi. Jadi, harus tetap waspada," ungkap dia.

Sementara itu, Ekonom Yanuar Rizky juga memperkirakan hal senada. Menurutnya rupiah masih berpeluang tertekan dikarenakan investor asing masih menahan diri di Indonesia. Hal tersebut diperparah dengan faktor global yang masih memengaruhi gerak nilai tukar rupiah.

Lebih lanjut, ia menambahkan, dana yang keluar dari negara berkembang ke negara asalnya pun mulai dirasakan di Turki dan Argentina. Hal tersebut memberikan efek negatif lantaran kedua negara mulai terguncang stabilitas ekonominya. Kondisi semacam itu diharapkan tidak terjadi di Indonesia.

"Jadi itu yang harus perlu diwaspadai oleh pemerintah," tukas dia.

Di sisi lain, Indef meminta pelemahan nilai tukar rupiah terhadap USD sekarang ini tidak dibawa ke ranah politik, terlebih di sosial media. Hal itu menjadi penting guna meredam ketakutan di dunia usaha dan investor yang ada di Indonesia.

Bhima Yudhistira berharap pihak terkait tidak mengambil kesempatan di saat nilai tukar rupiah sedang melemah. Pasalnya, pelemahan nilai tukar rupiah lebih mengarah ke persoalan fundamental dan struktur perekonomian yang terbebani oleh faktor eksternal.

"Jangan digoreng ke politik dan menyalahkan Jokowi. Ini sebenarnya masalah fundamental dan struktur yang belum selesai. Kalau terus mengibarkan bara api, jika oposisi menang di 2019, apa enak berkuasa dengan rupiah Rp15.000 per USD," ungkap dia.

Bhima berharap semua pihak bisa berkomentar positif terhadap perekonomian Indonesia, terutama ketika bicara mengenai nilai tukar rupiah. Hal itu penting dengan harapan masyarakat lebih tenang. Dari sisi pemerintah, lanjutnya, diharapkan hanya pihak-pihak yang benar-benar memahami yang menyampaikan kondisi ekonomi.

"Jadi yang tidak mengerti jangan banyak bicara, baik oposisi maupun pemerintah. Itu yang akan memngaruhi sentimen yang ada di pasar. Jadi tolong itu dilakukan," pungkas dia.


(ABD)


Kemenkeu Masih Tunggu Proposal Baru Investor Merpati

Kemenkeu Masih Tunggu Proposal Baru Investor Merpati

41 minutes Ago

Kementerian Keuangan (Kemenkeu) masih menunggu proposal baru dari calon investor yang akan meny…

BERITA LAINNYA