Amartha Telah Layani 27 Ribu Pengusaha UMKM

Dian Ihsan Siregar    •    Selasa, 29 Nov 2016 16:57 WIB
umkm
Amartha Telah Layani 27 Ribu Pengusaha UMKM
Press Conference Amartha. MTVN/Dian Ihsan SIregar.

Metrotvnews.com, Jakarta: Usaha Menengah Kecil Mikro (UMKM) merupakan salah satu kunci penggerak ekonomi di Indonesia. Semakin banyak masyarakat Indonesia berinvestasi di UMKM, maka otomatis juga akan memajukan ekonomi Indonesia.

Oleh karena itu, perlu ada sebuah inovasi microlending dalam mewjudkan keuangan inklusif yaitu dengan platform investasi onlin‎e Amartha bagi para UMKM.

CEO Amartha Anfi Taufan ‎Garuda Putra mengatakan, Amartha memulai bisnis pinjam meminjam sebagai lembaga keuangan mikro pada 2010. Setelah itu Amartha bertransformasi menjadi peer to peer (P2P) lending marketplace, yang mempunyai tujuan memberikan layanan meminjam online yang menghubungkan peminjam langsung dengan pemberi pinjaman sejak 2016.

"Melalui pendekatan ini, kami memberikan kenyamanan dan transparan bagi berbagai pihak yang berminat untuk memberdayakan sektor ekonomi informal serta membuat investasi menjadi lebih bermakna," kata Taufan, ditemui di bilangan Kemang, Jakarta, Selasa (29/11/2016).

Sejak 2010 hingga saat ini, menurut Taufan, Amartha telah melayani lebih dari 27 ribu anggota pelaku UMKM. Amartha juga mengaku sudah menyalurkan lebih dari Rp50 miliar pembiayaan bagi pengusaha mikro di pelosok pedesaan seluruh Indonesia.

Total pembiayaan sebanyak Rp50 miliar, diakui Taufan, telah dipercayai oleh ribuan investor untuk menyalurkannya ke pengusaha mikro.

"Kita salurkan pembiayaan di bawah Rp10 juta, lebih tepatnya dari Rp3 juta-Rp10 juta. Range bunganya dari 15-20 persen. Kita banyak salurkan ke Jawa Barat, Bogor, Subang, Bandung, dan sekitarnya," jelas Taufan.

Taufan melanjutkan, pengusaha mikro banyak yang meminjam kepada Amartha. Mereka dengan mudah mendapatkan pembiayaan setelah tim Amartha menyeleksi secara jelas dan cepat.

"UMKM semua sektor. Kredit score, yang menentukan rate, beberapa pembiayaan yang akan diberikan. ‎Baru mau mulai selama ada cash flow dan perputaran bisnisnya bisa kita danain lewat investor. Harus perempuan, yang kita kasih pinjaman tanpa jaminan, banyak orang yang tinggal di desa. Selama ini tidak ada kredit macet, kalau pun macet nanti ada kelompok dari peminjam kredit. Ya warga kampung juga," pungkas Taufan.


(SAW)