Neraca Perdagangan Kaltim Surplus Rp173 Triliun

   •    Minggu, 07 Jan 2018 09:53 WIB
berita kaltim
Neraca Perdagangan Kaltim Surplus Rp173 Triliun
Ilustrasi. MI/Atet Dwi Pramadia.

Samarinda: Neraca perdagangan luar negeri Provinsi Kalimantan Timur periode Januari-November 2017 mengalami surplus sebesar USD13,024 miliar atau setara dengan Rp173,21 triliun.

"Surplus atau keuntungan sebanyak itu diperoleh dari hasil ekspor sebesar USD15,88 miliar, dikurangi dengan biaya yang harus dikeluarkan untuk impor senilai USD2,86 miliar," ujar Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kaltim Muhammad Habibullah dikutip dari Antara, Minggu, 7 Januari 2018.

Perdagangan luar negeri merupakan kegiatan ekonomi yang saling menguntungkan dua pihak, karena dari keuntungan ekspor bisa digunakan sebagai tambahan dalam pembangunan, sementara dari barang yang diimpor bisa dijadikan untuk mengembangkan usaha yang dijalankan.

Berbagai komoditas yang diekspor oleh Kaltim tersebut berupa bahan bakar mineral, komoditas hasil pertanian, dan aneka barang hasil industri. Bahan bakar mineral yang diekspor di periode itu senilai USD14,7 miliar, terdiri atas migas dengan nilai USD3,83 miliar  dan bahan bakar mineral nonmigas yang di dalamnya terdapat batu bara dengan nilai USD10,87 miliar.

Sedangkan komoditas nonmigas selain bahan bakar mineral yang diekspor pada Januari-November 2017 antara lain lemak dan minyak hewani atau nabati senilai USD543,75 juta, bahan kimia anorganik dan senyawa organik senilai USD242,32 juta, kayu dan barang dari kayu atau arang senilai USD175,22 juta.

Ia menjelaskan bahwa negara tujuan ekspor migas dari Kaltim antara lain Jepang senilai USD1,43 miliar, Taiwan USD793,19 juta, Tiongkok USD124,95 juta, Malaysia USD167,5 juta, dan Singapura senilai USD321,58 juta.

Untuk ekspor nonmigas antara lain ke India USD 2,79 miliar, Tiongkok USD2,61 miliar, Jepang USD1,4 miliar, Korea Selatan USD1,42 miliar, Malaysia USD633,29 juta, dan ke Taiwan USD700 juta.

Sementara komoditas yang diimpor dengan nilai USD2,86 miliar tersebut antara lain berupa bahan bakar mineral senilai USD2,123 miliar, mesin dan peralatan elektronik serta bagiannya senilai USD92,33 juta, reaktor nuklir, ketel, mesin dan peralatan mekanis senilai USD321,27 juta.

Impor kendaraan selain yang bergerak di atas rel kereta api senilai USD71,69 juta, barang dari besi atau baja USD42,05 juta, pupuk USD55,20 juta, bahan peledak, produk piroteknik, korek api, paduan piroforik, dan preparat yang mudah terbakar USD26,32 juta.

Menurutnya, impor nonmigas antara lain dari Jepang senilai USD113,04 juta, Singapura USD86,62 juta, Amerika Serikat USD81,73 juta, Tiongkok USD108,37 juta, Jerman USD51,45 juta, Prancis USD37,25 juta, Australia USD49,93 juta, dan impor migas dari Italia senilai USD15,48 juta.

"Sedangkan impor migas di periode Januari-November 2017 antara lain berasal dari Nigeria senilai USD672,46 juta, dari Azerbaijan USD351,18 juta, Libya USD52,56 juta, Korea Selatan USD279,98 juta, dan dari Iran dengan nilai USD25,85 juta," jelas dia.


(SAW)