David Sutatip, Pengusaha Alat Berat Kategori 'Kelas Berat' (Bagian 2)

M Studio    •    Kamis, 08 Dec 2016 00:00 WIB
berita bca
David Sutatip, Pengusaha Alat Berat Kategori 'Kelas Berat' (Bagian 2)
David Sutatip (Foto:Dok.BCA)

Metrotvnews.com, Jakarta: Sebelum memasuki bisnis alat berat, David Sutatip awalnya berbisnis kayu khususnya meranti. Tepatnya pada tahun 1990. Suami Umi Kulsum ini mengenal jenis kayu dari kakak tirinya. Sang kakak memiliki pabrik kayu di Kalimantan.

 "Waktu itu, saya disuruh kakak untuk ikut tender kayu yang diadakan oleh salah satu perusahaan asing. Kayu ini dibutuhkan untuk merelokasi penduduk karena lahannya akan dibangun Indonesia Bulk Terminal," kata dia.

Berbekal kop surat dari sang kakak, ia mencoba ikut tender tersebut. Hebatnya, David yang saat itu masih proses menyelesaikan pendidikan strata 1 malah memenangkan tender yang diikuti. Keuntungan berlipat pun ia dapatkan dari menjual kayu. Pasalnya, saat itu masih minim pemain kayu sehingga tidak ada patokan harga.

"Saya bisa untung ratusan persen dari menjual kayu. Keuntungan inilah yang saya gunakan untuk membeli mobil, khususnya truk. Bahkan, setiap minggunya saya bisa membeli mobil dari keuntungan menjual kayu. Saya beli mobil tersebut dengan uang tunai," papar dia.

David mengaku bisa membeli truk sekitar 80 unit dari menjual kayu. Banyaknya truk yang dimiliki membuatnya melakukan diversifikasi usaha dengan memasuki bisnis transportasi khusus logistik dan batubara. David memilih ekspedisi Banjarmasin-Jakarta, Banjarmasin-Lampung, dan Banjarmasin-Tangerang-Surabaya.

Menurut David, walau bisnis kayu sangat menguntungkan namun ia memilih untuk meninggalkannya. Ia mengungkapkan banyak aksi tipu menipu dan preman yang harus dihadapi dalam menjalankan bisnis kayu. "Saya pernah berkali-kali terancam. Banyak yang mengancam  dan membuat saya celaka," kata dia.

Oleh karena itu, David lebih fokus mengembangkan bisnis transportasi logistik. Menurut David, bisnis logistik juga sangat menjanjikan walau keuntungannya tidak sebesar alat berat dan kayu.

Dalam menjalani bisnis transportasi, ayah tiga orang anak ini juga kerap menemui hambatan. Ia sering kali ditipu oleh sang sopir. "Mereka suka mengganti gardan, transmisi, ban, dan tape yang baru dengan yang sudah jelek. Barang-barang yang baru itu dijual ke orang lain," kata David.

Bahkan, David pernah menemukan drum-drum solar di hutan milik sopirnya. Drum tersebut diisi solar hasil menyedot dari tanki truk. "Setiap bulan saya kemalingan puluhan ribu liter," papar dia. Menurut David, hal ini sering membuat ia stres karena banyak marah-marah. Alhasil, bisnis ini pun ia tinggalkan dan beralih ke alat berat.

David mengaku dalam mengembangkan bisnisnya selama ini banyak ditopang oleh perbankan. Ia mengenal PT Bank Central Asia Tbk sekitar tahun 2000 dan telah menjadi nasabah BCA Prioritas sejak 10 tahun lalu. Ia banyak mendapatkan pinjaman dari perbankan sehingga cash flow perusahaan tetap terjaga.

"Saya besar karena kerja sama dengan bank, makanya saya selalu menjaga nama baik di bank. Saya berusaha sekuat tenaga agar kredit yang diberikan tidak macet. Kalau nama saya jelek maka bisnis saya bisa rusak," tegas David.

Sumber: Website BCA Prioritas


(ROS)