Tiga Langkah Kemenaker Hadapi Perubahan Akibat Revolusi Industri

Gervin Nathaniel Purba    •    Rabu, 07 Nov 2018 19:13 WIB
berita kemenaker
Tiga Langkah Kemenaker Hadapi Perubahan Akibat Revolusi Industri
Direktur Persyaratan Kerja Kemenaker Siti Junaedah. (Foto: Dok. Kemenaker)

Jakarta: Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) menyebutkan ada tiga langkah strategis yang harus direspons pada tatanan hubungan industrial dalam menghadapi perubahan akibat revolusi industri 4.0.

Pertama, pengembangan dialog sosial secara bipartit dan tripartit untuk mengatasi permasalahan dan sengketa hubungan industrial yang melibatkan unsur pekerja, pengusaha, dan pemerintah.

Kedua, penyiapan regulasi bidang hubungan industrial yang adaptif terhadap perubahan ekonomi digital. Ketiga, penyiapan Aparatur Sipil Negara (ASN) yang tanggap dan inovatif dalam merespons perubahan struktur ketenagakerjaan pada era ekonomi digital.

"Regulasi ketenagakerjaan yang adaptif diperlukan untuk merespons perubahan pada era ekonomi digital dengan tetap memperhatikan perlindungan pekerja/buruh dan iklim investasi yang kondusif bagi dunia usaha," kata Direktur Persyaratan Kerja Kemenaker Siti Junaedah, pada pembukaan Konferensi Hubungan Industrial kelima bertema The Alignment of New Industrial Relations Policy Toward Industry 4.0 Era di Jakarta, Rabu, 7 November 2018.

Terkait hal itu, kata Junaedah, diperlukan pengkajian bersama guna mengetahui apakah regulasi di bidang ketenagakerjaan saat ini masih relevan dengan tuntutan dan dinamika yang berkembang. Hubungan industrial yang harmonis bisa diwujudkan apabila selalu terbuka ruang dialog sosial yang dinamis antara pemerintah, pengusaha, dan pekerja/buruh. 

"Kemenaker akan terus mendorong terbentuknya forum-forum dialog sosial bipartit maupun tripartit sebagai wadah bersama guna mendialogkan berbagai permasalahan ketenagakerjaan serta penyelesaian perselisihan hubungan industrial," kata Junaedah.

Cara pandang yang mendikotomi serikat pekerja/serikat buruh dan pengusaha dalam posisi saling bertentangan harus diubah menjadi kolaborasi kemitraan yang saling bersinergi.  "Pengusaha tidak akan maju tanpa dukungan pekerja/buruh. Sebaliknya, pekerja/buruh tidak akan sejahtera tanpa kehadiran pengusaha," ujar Junaedah.

Junaedah juga mengajak peserta konferensi relasi industri agar tetap menjaga hubungan industrial yang kondusif di tengah dinamika persoalan ketenagakerjaan yang ada dan terus mengembangkan inovasi usaha dan bisnis agar mampu bersaing di dunia internasional pada era 4.0 ini. 

"Pada sisi lain juga tetap menjaga agar tidak terjadi pemutusan hubungan kerja terhadap para pekerja/buruh," ucapnya.


(ROS)