Menperin: Wirausaha Industri Lingkungan Ponpes Bakal Ditingkatkan

Ilham wibowo    •    Jumat, 08 Feb 2019 13:47 WIB
santriekonomi indonesiakementerian perindustrianpondok pesantren
Menperin: Wirausaha Industri Lingkungan Ponpes Bakal Ditingkatkan
Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto (MI/PIUS ERLANGGA)

Jakarta: Pelatihan dan pembinaan untuk mendorong penumbuhan wirausaha industri baru di lingkungan Pondok Pesantren (Ponpes) gencar dilakukan. Pemberdayaan para santri dalam memacu perekonomian nasional dituangkan melalui program Santripreneur.

"Dengan program Santripreneur ini, kami akan mendorong para santri, khususnya generasi milenial untuk bisa berindustri dan berkreasi dengan berbagai program pelatihan yang mereka dapatkan," ujar Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto, di Jakarta, Jumat, 8 Februari 2019.

Langkah strategis ini sejalan dengan implementasi Making Indonesia 4.0 dan mengambil momentum dari bonus demografi. Sepanjang 2018, program Santripreneur telah menjangkau 16 ponpes dan membina sebanyak 3.220 santri meliputi wilayah Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Yogyakarta.

Adapun program pembinaan dan pelatihannya, antara lain mengenai industri daur ulang sampah, konveksi busana muslim, makanan dan minuman olahan, kerajinan, perbengkelan, pupuk organik cair, dan pendampingan sertifikasi SNI garam beryodium.

"Kalau bicara pesantren, kami juga mendorong ekosistemnya. Salah satunya di pesantren Jawa Barat untuk membuat roti dan dikonsumsi oleh santri-santri di sana. Selain itu produksi air minum dalam kemasan yang nantinya dikonsumsi juga oleh para santri. Bahkan belajar tentang daur ulang sampah agar bisa menjadi bahan bakar untuk memasak," papar Airlangga.

Pengembangan yang dibuat disesuaikan dengan minat keahlian para santri. Program bimbingan teknis diberikan seperti pengolahan ikan, pembuatan alas kaki, dan pelatihan pembuatan lampu Light Emitting Diode (LED).

"Santripreneur bertujuan meningkatkan kompetensi Sumber Daya Manusia (SDM) bertalenta di lingkungan pesantren, sehingga menjadi bekal para santi untuk belajar mandiri dan berwirausaha sebelum terjun ke masyarakat," imbuhnya.

Pihak Bank Indonesia (BI) juga telah diajak kolaborasi dalam memfasilitasi inkubator bisnis syariah mengenai keuangan mikro syariah dan nonkeuangan seperti agrobisnis serta perdagangan dan jasa. Inkubator bisnis syariah bertujuan untuk mendorong pengembangan ekonomi syariah melalui pemberdayaan ekonomi pesantren.

Beberapa program pelatihan yang diberikan, antara lain tentang motivasi usaha dan penyusunan bisnis plan, pelatihan Rapid Rural Appraisal (RRA), penyusunan Feasibility Study (FS), pelatihan strategi marketing, serta pelatihan hukum bisnis, fiqih mualah dan akad perbankan syariah.

"Pondok pesantren ikut berperan dalam mewujudkan kemandirian industri nasional," kata Airlangga.

Program Santripreneur ditargetkan menjadi salah satu wadah untuk menjembatani santri-santri yang memiliki jiwa wirausaha agar lebih inovatif dan berdaya saing. Dalam hal ini, pemerintah mendorong para santri untuk memacu kemampuannya dalam berwirausaha.

Adapun peningkatan kemampuan itu melalui peningkatan etos kerja, kreativitas dan inovasi, produktivitas, kemampuan membuat keputusan dan mengambil risiko, serta kerja sama yang saling menguntungkan dengan menerapkan etika bisnis.

Tumbuhnya wirausaha industri baru juga dinilai akan memacu ketahanan ekonomi nasional semakin kuat. Pasalnya, efek berantai terhadap perekonomian seperti peningkatan pada penyerapan tenaga kerja bakal terjadi.

"Maka itu, kunci utama untuk jadi entrepreneur sukses ada dua, yaitu pintar dan perbanyak pertemanan," pungkasnya.


(ABD)