Usai Kamboja & Tiongkok, Salak Sleman Siap Diekspor ke Selandia Baru

Ahmad Mustaqim    •    Selasa, 11 Jul 2017 18:30 WIB
produksi buah lokal
Usai Kamboja & Tiongkok, Salak Sleman Siap Diekspor ke Selandia Baru
Ilustrasi petani salak. (FOTO: ANTARA/ADITYA PRADANA PUTRA)

Metrotvnews.com, Yogyakarta: Pemerintah Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta mengaku berupaya meningkatkan nilai ekapor buah salak ke sejumlah negara. Sejumlah negara disebut sudah menyatakan ketertarikan dan ada yang memesan hasil olahan salak.

Kepala Bidang Hortikultura Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan Sleman Edi Sriharmanto berujar, dua asosiasi telah melakukan ekspor salak ke luar negeri. Ia menyebutkan, Mitra Turindo mengekspor salak ke Kamboja selama seminggu dua kali sebanyak 5,5 ton. Selain itu, Asosiasi Prima Sembada mengekspor salak ke Tiongkok dalam waktu seminggu sekali sebanyak 1,5 ton.

"Kita sedang merintis ekspor ke Selandia Baru dan Singapura. Ekspor ke Tiongkok dan Kamboja masih berjalan hingga 2017 ini," ujar Edi saat ditemui di Pendopo Pemerintah Kabupaten Sleman, Selasa 11 Juli 2017.

Selain dua negara tersebut, Amerika Serikat juga disebut menginginkan salak dari Sleman. Namun, negeri Paman Sam menginginkan berupa keripik salak. Menurut Edi, upaya memperluas jaringan ekspor sangat memungkinkan. Sebab, prosuksi petani salak di Sleman terbilang besar.

Menurut dia, luasan lahan petani yang ditanami salak ada sebanyak 4,5 juta rumpun. Adapun tiap rumpun tersebut bisa menghasilkan sekitar 10 kilogram salak. Total, produksi salak di Sleman tiap tahun sekitar 45.000 ton.

Akan tetapi, sebelum melakukan ekspor tambahan bakal dilakukan pembenahan budidaya tanaman buah salak. Selain itu, juga penanganan buah salak usai panen. "Di pasar tradisional dan penjual, biasanya salak yang dijual tipe kelas B," ujarnya.

Menurut Edi, di Kecamatan Turi dan Tempel juga sudah terdapat kelompok yang biasa melakukan pengemasan buah salak sebelum diekspor. Dengan upaya itu, Edi berharap harga salak yang sangat rendah dalam dua bulan terakhir tak kembali terulang.

"Rata-rata petani menjual salak itu campuran. Baru dipilah di tingkatan pengepul. Harga salak di pedagang masih tinggi karena sudah dipilah," kata dia.

Sekretaris Daerah Pemerintah Kabupaten Sleman, Sumadi menambahkan buah salak akan lebih bagus dijual apabila sudah diolah. Artinya, kata dia, buah salak bisa dimakan tak hanya ketika berwujud buah. "Kita akan mengkaji dengan dinas perdagangan, bagaimana mengolah (salak) agar nilainya lebih," ujarnya.

Sementara itu, soal regulasi agar melindungi petani salak, Sumadi mengatakan bakal membahasnya dengan pihak DPRD. "Bamaimana cara dan bentuk aturannya, kami bahas dengan DPRD nanti. Kami tak bisa memutuskan cepat," kata dia.

Harga salak di Sleman pada tingkat petani mencapai titik terendah di tahun ini, khususnya dua bulan terakhir. Rata-rata, petani menjual salaknya diharga Rp1.500 hingga Rp3.000 per kilogram. Akibatnya, sejumlah petani memilih tak memanen buah salak dan dibiarkan membusuk.


(AHL)