Pengusaha Beras Dukung Penerapan HET

   •    Kamis, 14 Sep 2017 20:04 WIB
het beras
Pengusaha Beras Dukung Penerapan HET
Illustrasi. ANT/Rivan Awal Lingga.

Metrotvnews.com, Jakarta: Pemerintah secara efektif akan berlakukan harga eceran tertinggi (HET) beras pada 18 September 2017. Dukungan terhadap kebijakan tersebut datang di antaranya dari Ketua DPD Persatuan Pengusaha Penggilingan Padi dan Pengusaha Beras (PERPADI) DKI Jakarta Nellys Soekidi. 

Menurutnya, kebijakan ini perlu dilihat sebagai semangat pemerintah untuk menata manajemen perberasan sehingga berkeadilan baik bagi petani, pedagang, dan konsumen.  

"Bicara beras tidak bisa sepotong-potong, harus dari hulu ke hilir. Kalau harga terlalu tinggi, kasihan konsumen. Sedangkan kalau harga terlalu rendah, kasihan petani. Semua harus ada batasannya. Kalau tidak ada HET, bisa dibayangkan berapa harga beras pasaran," ucap Nellys saat jumpa pers di Kantor Pusat Kementerian Pertanian, Kamis 14 September 2017. 

Dia mengatakan, bahwa selama ini pasokan ke Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC) masih dalam kondisi normal, dengan kisaran sekitar 40.000 ton per hari. Pasokan beras medium ke pasar induk diakuinya memang menurun sekitar 15-20 persen. Tapi hal ini masih dinilai wajar. 

Selain itu, pergerakan harga beras medium di pasar induk juga dinilai masih dalam kisaran normal. Hingga saat ini harga beras medium berada dikisaran Rp8.000-Rp9.000 per kg.

"Sejauh ini masih dalam range stabil. Pedagang beras itu kalau naik Rp200-Rp300 per kg, masih masuk kategori normal. Tapi kalau ada kenaikan Rp400 hinngga Rp500 per kg secara terus-menerus baru bisa disebut ada kenaikan," pungkasnya.  

Koordinasi 

Plt. Kepala Biro Humas dan Informasi Publik Kementan Suwandi menyebutkan kebijakan HET ditetapkan atas masukan dari berbagai pihak, termasuk stakeholder. Kementerian Pertanian turut memberikan masukan, diantaranya dalam hal spesifikasi beras. 

“Kemendag intensif berkoordinasinya. Sekarang sudah masuk tahapan sosialisasi ke semua pihak sehingga nanti diharapkan peraturan bisa dipatuhi dengan harapan konsumen bisa menikmati harga yang lebih murah dibandingkan selama ini,” tegas Suwandi.

Pria yang menjabat juga sebagai Kepala PUSDATIN Kementan tersebut menegaskan bahwa kebijakan HET tidak akan berdampak kepada harga di petani karena pemerintah sudah menetapkan Harga Pokok Pembelian (HPP) Gabah dan Beras di tingkat petani dan produsen ditambah fleksibiltas harga 10 persen. 

“Dengan penetapan kebijakan HPP dan HET Beras, ini membuktikan pemerintah hadir untuk melindungi petani dan konsumen, serta menjaga pedagang supaya eksis dengan normal profit,” ungkapnya.       

Kemendag menetapkan HET beras berdasarkan zonasi. Jawa, Lampung, Sumatera Selatan, Bali, NTB dan Sulawesi dianggap sebagai wilayah produsen beras. Sehingga di wilayah-wilayah tersebut harga beras medium yang ditetapkan Rp9.450 per kg dan premium Rp12.800 per kg. Sementara untuk wilayah lainnya yang membutuhkan ongkos transportasi lebih, harga tersebut ditambah Rp500 per kg. 

Dengan adanya pemberlakuan HET untuk tiga kategori beras yang berbeda, yaitu medium, premium, dan khusus, muncul kekhawatiran beberapa pihak bahwa akan terjadi perembesan dari beras kategori medium ke premium. Nellys menilai meskipun hal ini mungkin terjadi, tapi akan sangat sulit untuk dilakukan.



(SAW)