Kemenkes Minta RS Rawat Sistem TI Cegah Serangan Ransomware WannaCry

Eko Nordiansyah    •    Rabu, 17 May 2017 08:15 WIB
cyber securitywannacry
Kemenkes Minta RS Rawat Sistem TI Cegah Serangan <i>Ransomware WannaCry</i>
Direktur Jenderal Pelayanan Kesehatan Kemenkes Bambang Wibowo (Foto: MTVN/Eko Nordiansyah)

Metrotvnews.com, Jakarta: Kementerian Kesehatan (Kemenkes) meminta agar seluruh rumah sakit bisa memperkuat sistem teknologi informasinya (TI). Pasalnya dalam beberapa hari terakhir muncul serangan malware berupa ransomware wannaCry yang mengenkripsi data sehingga menganggu pelayanan di rumah sakit.

"Tentunya pertama mengenai kedisiplinan, jadi bagaimana merawat sistem itu. Kedua melakukan back up data," Direktur Jenderal Pelayanan Kesehatan Kemenkes Bambang Wibowo ditemui di Discovery Hotel, Ancol, Jakarta Utara, Selasa 16 Mei 2017 malam.

Dirinya menambahkan, kedisiplinan penggunaan TI juga perlu dilakukan oleh para pegawai yang bertugas di rumah sakit. Apalagi Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemenkominfo) telah mengeluarkan imbauan agar mencegah dampak negatif penyebaran malware yang bisa menganggu kinerja baik di perusahaan maupun kementerian/ lembaga.

Sejauh ini, lanjut Bambang, baru ada satu rumah sakit di Indonesia yang terkena dampak serangan ransomware wannacry. Namun pihak rumah sakit telah menyelesaikan kendala yang ditimbulkan sehingga pelayanan kepada masyarakat dapat kembali berjalan normal.

Selama ini, kata dia, sistem TI dinilai sangat membantu pelayanan di rumah sakit. Misalnya saja dengan penggunaan sistem yang diprogram sedemikian rupa dapat mengurangi jumlah antrean. Pada akhirnya masyarakat yang membutuhkan pelayanan kesehatan dapat ditangani dengan segera tanpa harus menunggu lama.

"Kemudian pendaftaran online yang telah banyak dilakukan oleh rumah salit, ini memotong waktu tunggu pasien sehingga memudahkan dan beri kenyamanan. Pengunaan TI untuk sistem rujukan, itu juga beri kemudahan. Artinya pasien dari rumah sakit tertentu yang ingin dirujuk itu sudah ada komunikasi sehingga kebutuhan pasien bisa terpenuhi dengan baik," jelas dia.

Sekadar diketahui, wannaCry menginfeksi sebuah komputer dengan meng-encrypt seluruh file yang ada di komputer tersebut dan dengan menggunakan kelemahan yang ada pada layanan SMB bisa melakukan eksekusi perintah lalu menyebar ke komputer windows lain pada jaringan yang sama.

Semua komputer yang tersambung ke internet yang masih memiliki kelemahan ini apalagi komputer yang berada pada jaringan yang sama memiliki potensi terinfeksi terhadap ancaman WannaCry.

Dari tampilan diketahui bahwa WannaCry meminta ransom atau dana tebusan agar file-file yang dibajak dengan enkripsi bisa dikembalikan dalam keadaan normal lagi. Dana tembusan yang diminta adalah dengan pembayaran bitcoin yang setara dengan USD300.

Untuk pengiriman yang tebusan itu, WannaCry memberikan alamat bitcoin untuk pembayarannya. Di samping itu juga memberikan deadline waktu terakhir pembayaran dan waktu di mana denda tebusan bisa naik jika belum dibayar juga.


(ABD)