Terus Merugi, Menteri Rini Siap Evaluasi Direksi BUMN

Dian Ihsan Siregar    •    Selasa, 12 Sep 2017 18:45 WIB
bumn
Terus Merugi, Menteri Rini Siap Evaluasi Direksi BUMN
Menteri BUMN Rini Soemarno.ANT/Hafidz Mubarak A.

Metrotvnews.com, Jakarta: Kementerian BUMN mengakui masih ada 24 perusahaan BUMN yang masih merugi. Meski demikian, jumlah itu ditargetkan hanya tersisa satu BUMN yang masih merugi hingga akhir 2017, yakni PT Merpati Nusantara Airlines (Persero).

Deputi Bidang Restrukturisasi dan Pengembangan Usaha Kementerian BUMN Aloysius K Ro menyatakan, dari sebanyak 24 perusahaan BUMN yang merugi, tidak semua dalam kondisi kritis dan harus direstrukturisasi.‎ Ada juga perusahaan yang tahun lalu untung, tapi tahun ini merugi. 

‎Bukan hanya itu, ada juga beberapa tahun lalu untung, tapi beberapa tahun merugi dan tak kunjung bangkit. 

"Kalau dia (Direksi) tidak performance, ya ganti orang," ungkap Aloy, ditemui di Gedung Kementerian BUMN, Jakarta, Selasa 12 September 2017.

S‎ekretaris Kementerian BUMN Imam A Putro menyatakan, dirinya lewat jajaran kedeputian sedang berupaya mewujudkan target yang telah ditetapkan oleh Menteri BUMN Rini Soemarno. 

"‎Bu Menteri mengingatkan entah yang ke berapa kali supaya akhir 2017 tidak boleh ada atau seminimal mungkin yang masih mengalami kerugian," ungkap Imam.

Ketika ingin keluar dari kerugian, bilang Imam, maka mereka harus bekerja keras hingga akhir tahun ini. "Kalau tidak bisa diajak cepat atau kalau mau jalan kayak kura-kura (manajemen perusahaan), ya minggir saja," pungkas Imam.

Dari data yang didapatkan Metrotvnews.com, sebanyak 24 BUMN yang masih merugi, terdiri dari ‎PT Rajawali Nusantara Indonesia (Persero), ‎Perum Bulog, ‎PT Berdikari (Persero), ‎PT Indofarma (Persero) Tbk (INAF), ‎PT Energy Management Indonesia (Persero), ‎PT Hotel Indonesia Natour (Persero), ‎PT Pos Indonesia (Persero), ‎Perum PFN‎, PT Aneka Tambang (Persero) Tbk (ANTM), ‎PT Balai Pustaka (Persero), PT PAL Indonesia (Persero), ‎PT Dok dan Perkapalan Surabaya (Persero).

Kemudian, ada ‎PT Krakatau Steel (Persero) Tbk, ‎PT Boma Bisma Indra (Persero), ‎PT INTI (Persero), ‎PT Dirgantara Indonesia (Persero), ‎PT Amarta Karya (Persero), ‎PT PDI Pulau Batam (Persero), ‎Perum Damri, ‎PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk, ‎PT Danareksa (Persero), ‎PT Pengembangan Armada Niaga Nasional (Persero), ‎PT Iglas (Persero), dan‎ PT Istaka Karya (Persero)‎.





(SAW)