Seduhan Kopi Napi Rutan Cipinang Paling Laris di TEI 2017

Desi Angriani    •    Rabu, 11 Oct 2017 18:49 WIB
trade expo indonesia
Seduhan Kopi Napi Rutan Cipinang Paling Laris di TEI 2017
Rutan kopi menjadi salah satu yang laris di TEI 2017. (FOTO: MTVN/Desi Angriani)

Metrotvnews.com, Banten: Pameran dagang skala internasional terbesar di Indonesia Trade Expo (ITE) 2017 menjadi ajang pamer produk unggulan nasional. Ratusan produk dan jasa ini ditampilkan dalam tujuh zona di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD, Tangerang, Banten.

Salah satu zona yang paling diminati ialah craft and creative products. Di lokasi tersebut terdapat sebuah stan dengan dekorasi unik berbentuk lapas atau jeruji besi. Tak disangka, booth tersebut berisi produk unggulan narapidana di seluruh wilayah Indonesia.

Metrotvnews.com mengamati pengunjung berjubel dan rela antre untuk mendapatkan segelas kopi gratis di balik jeruji tersebut. Rupanya, sang barista adalah seorang napi narkotika di Rumah Tahanan (Rutan) Klas I Cipinang yang mampu menghasilkan rasa kopi yang tak kalah mewah di kedai kopi di pasaran.

Ada sembilan jenis kopi lokal yang ditawarkan mulai dari kopi Toraja, Flores hingga Wamena. Kopi diseduh dengan sebuah mesin kopi canggih dan disajikan layaknya di kedai kopi. Sang napi bernama Toha, 37, ini juga melayani dengan penuh senyuman bak barista profesional lainnya.


Rutan kopi menjadi salah satu yang laris di TEI 2017. (FOTO: MTVN/Desi Angriani)

Toha mengaku mendapat pelatihan barista dari Yayasan Jera Foundation. Pembinaan dilakukan selama satu bulan mulai dari teori hingga praktek penyajian. Setelah mahir, Toha dipilih untuk mengikuti sejumlah pameran kopi bahkan menjadi instruktur bagi rekan lainnya.

"Ini bukan pameran pertama, saya sudah seringkali ikut even. Selama dibina mental saya lebih kuat dan disiplin. Lebih banyak aktivitas dan di dalam saya juga menjadi instruktur untuk calon barista," katanya kepada Metrotvnews.com di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD, Tangerang, Banten, Rabu 11 Oktober 2017.

Setelah keluar dari rutan nantinya, Toha ingin membuka usaha kedai kopi dengan merangkul rekan mantan narapidana lainnya. Dia berharap para mantan napi dapat menjalani hidup yang lebih positif.

"Saya ingin buat usaha kopi sambil menampung teman-teman saya yang sudah bebas," ungkapnya.


Rutan kopi menjadi salah satu yang laris di TEI 2017. (FOTO: MTVN/Desi Angriani)

Ketua Yayasan Jera Foundation Gusti Arief mentuturkan, pihaknya memprioritaskan pelatihan barista bagi napi narkotika. Mereka juga dipastikan berkelakuan baik selama di tahanan dan tidak menjalani masa tahanan kurang dari lima tahun.

"Kita tetap koordinasi dengan pihak rutan, kita membuka informasi kita lihat dari kelakuan dulu, kan ada  datanya di rutan," ungkap dia.

Gusti menambahkan, Jera Foundation juga membuka sebuah kedai kopi dikelola oleh mantan narapidana. Kedai kopi ini berlokasi di Kantor Imigrasi DKI di Kota Tua, Jakarta Barat. Ke depannya, para mantan napi yang telah menjadi barista profesional akan dipekerjakan di kedai-kedai kopi yang dibuka diseluruh kantor imigrasi di Jakarta.

"Di halaman kantor imigrasi Jakbar. ini mereka yang sudah bebas ya, investasi dari kita sendiri tapi kita tetap mengundang kawan-kawan yang ingin join. Join Jeira coffe house namanya itu gabungan juga dari join coffee, mereka ikut terlibat. Semuanya mantan warga binaan," tandasnya.


(AHL)