Investasi Ilegal kian Mencemaskan

   •    Selasa, 24 Oct 2017 08:04 WIB
ojkinvestasi bodong
Investasi Ilegal kian Mencemaskan
Ilustrasi. (FOTO: MTVN/M. Rizal)

Metrotvnews.com, Jakarta: Keberadaan investasi ilegal atau bodong terus mengintai masyarakat. Kerugian yang ditimbulkan pun semakin besar dari waktu ke waktu.

Bila merujuk pada data kerugian nasabah PT Qurnia Subur Alam Raya (Qsar) 2002 sebesar Rp500 miliar, kerugian akibat investasi ilegal telah melonjak hingga 12 kali lipat pada kasus Koperasi Langit Biru (2011) yang sebesar Rp6 triliun.

Bahkan, saat ini praktik investasi ilegal yang terkuak ke permukaan umumnya mencapai di atas Rp500 miliar. Pada kasus terakhir di Pandawa Group yang dioperatori mantan tukang bubur di Depok, ada yang memprediksi kerugian dua kali lipat dari Rp3,8 triliun.

Langkah Satgas Waspada Investasi OJK yang secara periodik mengumumkan penghentian kegiatan perusahaan atau badan usaha yang terindikasi melakukan kegiatan investasi ilegal tidak lagi mencukupi. Terakhir, Satgas Waspada Investasi menghentikan 14 kegiatan perusahaan yang terindikasi berpotensi merugikan masyarakat akibat melakukan investasi ilegal.

Baca: Satgas Waspada Investasi Hentikan Penghimpunan Dana oleh 14 Entitas

Salah seorang praktisi di industri jasa keuangan yang tidak bersedia diungkap namanya mengatakan masih banyak kasus yang belum terungkap ke masyarakat karena kerugiannya masih berada antara Rp100 miliar hingga Rp200 miliar.

"Jadi ini seperti fenomena gunung es. Kalau masih di kisaran Rp100 miliar hingga Rp200 miliar (kerugiannya), biasanya belum terdeteksi, " kata praktisi itu.

Hal itulah yang menjelaskan bahwa angka-angka kerugian yang ditimbulkan investasi ilegal makin membesar dari waktu ke waktu.

Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso dalam sebuah seminar pernah memaparkan kerugian akibat investasi bodong sepanjang 10 tahun terakhir mencapai Rp105,8 triliun.

Yang menarik bahwa investasi ilegal itu tidak melulu menyasar kalangan yang berpendidikan rendah. Tidak jarang kasus investasi ilegal juga menyasar mereka yang berpendidikan tinggi. Itu terjadi karena mereka tergiur oleh iming-iming return atau pendapatan tinggi.




Gerakan Bersama

Anggota Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Destry Damayanti memaparkan kelompok masyarakat yang memiliki simpanan di bank Rp100 juta hingga Rp500 juta rentan terhadap praktik investasi ilegal ini.

"Investasi bodong luar biasa banyaknya seperti First Travel. Jadi edukasi untuk masyarakat penting sekali," ujar Destry di Kantor Media Indonesia, pekan lalu.

Pengamat keuangan dari Universitas Indonesia Hotbonar Sinaga mengatakan perlu ada upaya penindakan hukum yang keras bagi para pelaku investasi ilegal.

Dari sisi industri, Hotbonar memandang perlu ada usaha bersama dari seluruh pelaku industri jasa keuangan untuk memberikan edukasi kepada masyarakat tentang investasi ilegal. Hotbonar menilai masih banyak masyarakat yang belum mengetahui perihal informasi tersebut.

"Wajibkan industri jasa keuangan memublikasikan di media, contoh-contoh investasi bodong (ilegal). Perusahaan jasa keuangan bisa gunakan dana CSR untuk sumber pembiayaannya," tandas Hotbonar. (Media Indonesia)


(AHL)