Kemendes PDTT Kenalkan Prukades kepada Ekonom Asia

Gervin Nathaniel Purba    •    Selasa, 10 Jul 2018 16:19 WIB
Berita Kemendes PDTT
Kemendes PDTT Kenalkan Prukades kepada Ekonom Asia
Mendes PDTT Eko Putro Sandjojo (Foto:Dok)

Jakarta: Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) terus menggenjot program Produk Unggulan Kawasan Perdesaan (Prukades) dalam upaya meningkatkan daya saing usaha berskala kawasan perdesaan.

Indonesia memiliki pertumbuhan ekonomi yang baik. Namun masih banyak masyarakat miskin karena salah satunya tidak bisa mengakses pasar dan economic of skill

Melihat kenyataan tersebut, Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Mendes PDTT) Eko Putro Sandjojo memperkenalkan bisnis model Prukades (Produk Unggulan Kawasan Perdesaan) sebagai usaha untuk meningkatkan perekonomian di kawasan perdesaan.

Menteri Eko menjelaskan mengenai Prukades di hadapan para ekonom dari Thailand, Filipina, Taiwan, Malaysia dan Korea, saat menjadi honourable speaker dalam Seminar International Conference Microeconomics of Competitiveness (MOC) bertema Comparative Cluster Initiatives in Asia, di Jakarta, Senin, 9 Juli 2018.

"Bisnis model Prukades ini membuat ekonomi cluster fokus maksimal pada tiga komoditas. Saya apresiasi seminar internasional ini untuk menciptakan peluang dan mengatasi permasalahan ini dengan para pakar ekonomi," ujar Menteri Eko.

Diketahui, sebanyak 82,77 persen penduduk desa bekerja di sektor pertanian, namun masalahnya yaitu skala ekonomi kecil, akses pasar yang sangat terbatas, tidak terintegrasi vertikal, tidak tersedianya industri pascapanen, dan minim permodalan serta keterlibatan swasta. 

"Rata-rata usaha kecil di perdesaan masih mengalami masalah distribusi sehingga menyebabkan harga beli di petani masih rendah, solusinya yaitu klusterisasi produk unggulan desa, menciptakan integrasi vertikal, dan pelibatan swasta untuk industri pascapanen," katanya.



Konsep model bisnis pengembangan Prukades meliputi sembilan hal:

1. Customer segment, yaitu perusahaan komoditas pertanian, e-commerce, konsumen langsung. 

2. Value proposition yaitu bertemunya potensi antardesa dan pasar menciptakan nilai tambah desa. 

3. Channels, yaitu jaringan bisnis, jaringan program pempus dan pemda, jaringan LSM. 

4. Customer relationship, yaitu konsultasi, WAG, dan website, penanganan masalah, pendampingan. 

5. Revenue stream, yaitu peningkatan PAD, PDRB, pendapatan petani, BUMdesa Bersama, kemajuan desa. 

6. Key resources, yaitu jaringan bisnis dan program, kekuasaan eksekusi pusat, daerah, usaha. 

7. Key activities MoU, PKB, pembentukan BUMdesa Bersama, perbup lokasi, SK PIC, pelatihan, persiapan,  produksi, pemasaran hasil. 

8. Key partners, yaitu PIC Kemendesa PDTT, Bupati, PIC Perusahaan, Bumdesa Bersama, Petani. 

9. Cost structure, yaitu komunikasi, rapat koordinasi, kajian lapangan, penyusunan dokumen, pendampingan.



Pelaksanaan Forum Prukades ini setidaknya melibatkan langsung para stakeholder yang terkait dengan desa, di antaranya 19 Kementerian/Lembaga, Pemerintah Daerah, Perbankan, Pemerintah Desa, dan Dunia usaha.

Pada kesempatan itu, ia menjelaskan beberapa contoh sukses bisnis model pengembangan Prukades di Kabupaten Pandeglang (komoditas jagung dan budidaya kerapu), pengembangan Prukades di lahan transmigrasi Melolo, Sumba Timur dengan komoditas tebu, pengembangan Prukades di Kabupaten Tulang Bawang dengan komoditas udang.

Beberapa negara memiliki tingkat konsumsi yang lebih tinggi dibandingkan produksinya. Hal ini menunjukkan bahwa masih ada peluang bagi Indonesia untuk menjadi pengekspor komoditas pertanian ke negara lain. Diharapkan dengan program Prukades ini bisa meningkatkan pendapatan masyarakat desa dan petani khususnya. 


(ROS)