Luhut: Hadapi Revolusi Industri 4.0, Mindset Harus Diubah

Nia Deviyana    •    Selasa, 04 Dec 2018 12:38 WIB
Revolusi Industri 4.0
Luhut: Hadapi Revolusi Industri 4.0, <i>Mindset</i> Harus Diubah
Menko Maritim Luhut Pandjaitan. (FOTO: Medcom.id/Desi Angriani)

Jakarta: Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan ada banyak tantangan untuk menyukseskan revolusi industri 4.0, salah satunya harus ada perubahan mindset dari para pemimpin untuk mau mendengarkan generasi muda.

"Kalau bidangnya kita kuasai tapi tidak ada perubahan mindset dari pemimpin, enggak akan ketemu," ujarnya dalam diskusi bersama Dewan Riset Nasional, di Hotel Sari Pan Pasific, Jakarta, Selasa, 4 Desember 2018.

Menurut dia, generasi milenial memiliki inovasi untuk menghadapi tantangan revolusi industri. Namun, pemimpin harus mau mendengar agar bisa membuat keputusan yang bertanggung jawab.

"Presiden sudah lakukan training secara masif, mulai dari menteri, sekjen, dikti, bagaimana kita harus mendengar sebagai pemimpin. Jangan mentang-mentang Menko, kamu yang perlu saya, enggak bisa begitu," cetus Luhut.

Pada kesempatan yang sama, Luhut memaparkan bagaimana pemerataan pendidikan masih menjadi kendala untuk memuluskan revolusi industri 4.0.

"Kita kurang memperhatikan pendidikan di bidang teknologi. Jadi yang hebat cuma ITB, UGM, ITS, itu-itu saja. Makanya tahun depan presiden sudah bicara human capital," pungkasnya.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto sebelumnya juga mengatakan revolusi industri 4.0 menjadi hal yang harus diantisipasi. Airlangga mengaku sudah menyiapkan empat langkah strategis, salah satunya terkait dengan keterampilan tenaga kerja. Hal ini menjadi penting karena soal pekerjaan manusia akan diambil alih oleh robot selalu menjadi diskusi hangat akhir-akhir ini. Padahal tidak semua pekerjaan akan selalu diisi oleh robot.

Oleh karena itu, pemerintah mendorong keterampilan tenaga kerja Indonesia dalam mengintegrasikan kemampuan internet dengan lini produksi di industri manufaktur. Keterampilan itu diperoleh melalui pelatihan vokasi bagi pelajar SMK dengan target mencapai satu juta orang pada 2019.

Kemenperin juga telah melaksanakan program pendidikan dan pelatihan vokasi, salah satunya mengusung konsep link and match antara industri dengan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Hingga saat ini, program pendidikan vokasi yang diluncurkan di beberapa wilayah Indonesia tersebut melibatkan sebanyak 618 perusahaan dengan menggandeng hingga 1.735 SMK.

"Tujuannya adalah menciptakan satu juta tenaga kerja kompeten yang tersertifikasi sesuai kebutuhan dunia industri pada 2019," kata Airlangga, beberapa waktu lalu.

 


(AHL)


Solusi Rangkap Jabatan BP Batam Dinilai Melanggar UU

Solusi Rangkap Jabatan BP Batam Dinilai Melanggar UU

3 days Ago

Keputusan pemerintah melebur BP Batam ke Pemerintah Kota Batam mendapat respons dan tanggapan b…

BERITA LAINNYA