Sumber Daya Manusia 2019

   •    Selasa, 09 Jan 2018 10:58 WIB
analisa ekonomi
Sumber Daya Manusia 2019
Ilustrasi. (ANTARA FOTO/R Rekotomo)

PRESIDEN Joko Widodo menyatakan akan mulai berkonsentrasi pada pembangunan sumber daya manusia (SDM) pada 2019. Saat ini pembangunan infrastruktur masih mendominasi program-program pemerintah, dan berangsur-angsur nanti akan semakin berkurang.

Jadi, mulai tahun depan pembangunan di bidang SDM akan berlangsung besar-besaran. Alasan mengembangkan SDM ialah negara tidak bisa terus-menerus bergantung kepada kekayaan yang dihasilkan dari sumber daya alam, seperti batu bara, minyak, dan gas.

Kunci pertumbuhan ekonomi ke depan ialah pembangunan SDM. Pendidikan ialah kunci perbaikan SDM. PISA (Programme for International Students Assessment) 2015 telah mengevaluasi performa siswa di 69 negara. Hasilnya peringkat Indonesia masih tergolong rendah.

Berturut-turut rata-rata skor pencapaian siswa RI untuk sains, membaca, dan matematika berada di peringkat ke-62, ke-61, dan ke-63 dari ke-69 negara yang dievaluasi. Memang ada perbaikan jika dibandingkan dengan 2012, tetapi tidak terlalu signifikan. Siswa Indonesia dapat dikatakan memiliki penguasaan materi yang rendah.

Bagaimana masa depan SDM Indonesia apabila kualitas anak didiknya saat ini tidak menunjukkan keunggulan? Daya saing bangsa sulit untuk terdongkrak karena sejak awalnya sudah jauh tertinggal jika dibandingkan dengan negara-negara lain.

Janganlah bermimpi untuk mengejar Singapura, dengan Vietnam dan Thailand pun kita sulit unggul. Ini indikasi bahwa banyak yang harus dibenahi dengan sistem pendidikan di Tanah Air.

Setiap hari, siswa di RI mulai tingkat dasar sampai menengah dijejali mata pelajaran yang beraneka ragam dengan tingkat kedalaman yang mungkin tidak terbayangkan oleh siswa-siswa di negara maju.

Silakan cek buku-buku teks yang wajib dibaca anak-anak kita di tingkat dasar. Niscaya banyak orangtua yang bertanya-tanya, untuk apa ilmu yang demikian mendalam diajarkan pada anak-anak SD. Saking mendalamnya materi pelajaran siswa di Indonesia, mungkin telah membuat anak-anak kita 'muntah'. Banyak anak didik kita yang memiliki lower order thinking skills.

Mengacu pada studi TIMSS (Trends in International Math and Science Survey) 2007, anak-anak Indonesia yang memiliki performa rendah dan di bawah rata-rata berjumlah 78 persen, Korea 10 persen, Singapura 12 persen, Taiwan 14 persen, dan Hong Kong 15 persen. Tantangan ke depan sungguh berat karena performa tinggi dan advanced baru diraih lima persen anak Indonesia.

Sistem pendidikan yang baik bukan hanya menghasilkan SDM yang siap menjadi pekerja, melainkan juga SDM yang memiliki jiwa entrepreneurship, kemampuan analitis, dan berpikir efektif dan efisien. Serta lebih dari itu semua ialah adanya karakter positif (disiplin, kerja keras, dan jujur) yang melekat kuat dalam dirinya.




Kualitas Hidup

Laporan World Economic Forum (WEF) berjudul Global Human Capital Report 2017 menempatkan Indonesia di peringkat ke-65 dalam hal kualitas SDM di 130 negara. Peringkat itu sedikit membaik jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Secara rata-rata kualitas SDM kita masih berada di bawah negara ASEAN lainnya, seperti Singapura (11), Malaysia (33), Thailand (40), dan Filipina (50).

Indikator kualitas SDM dalam laporan ini mencakup capacity (kemampuan pekerja berdasarkan melek huruf dan edukasi), deployment (tingkat partisipasi pekerja dan tingkat pengangguran), development (tingkat dan partisipasi pendidikan), dan know-how (tingkat pengetahuan dan kemampuan pekerja serta ketersediaan sumber daya).

Sedikit kabar baik di bidang kesehatan ditunjukkan studi Global Burden of Disease yang mengungkapkan usia harapan hidup orang Indonesia semakin bertambah. Seorang anak laki-laki Indonesia yang lahir pada 2016 memiliki kesempatan untuk hidup hingga usia 69,8 tahun, lebih lama 2,4 tahun jika dibandingkan dengan satu dekade lalu.

Seorang anak perempuan akan dapat hidup hingga berusia 73,6 tahun, yang berarti lebih lama 3,4 tahun jika dibandingkan dengan 2006. Penduduk Jepang dan Korea saat ini memiliki usia harapan hidup di atas 80 tahun.

Sejumlah penyakit masih menjadi penyebab tingginya angka kematian di Indonesia, terutama penyakit degeneratif (stroke, penyakit jantung, diabetes, dan hipertensi). Penulis pada 13-16 November 2017 hadir pada 6th International Whole Grain Summit di Wina.

Ternyata sangat sedikit negara di dunia yang menyebutkan secara tegas pentingnya whole grains dalam dietary guidelines (pedoman gizi) di negara masing-masing.

Whole grains atau biji-bijian utuh mengandung tinggi serat dan berbagai vitamin yang penting untuk pencegahan penyakit degeneratif, tetapi kesadaran mengonsumsi whole grains masih sangat rendah.

Proses pengolahan padi menjadi beras putih di Indonesia telah menghilangkan banyak serat sehingga fungsi kesehatannya tidak lagi dapat diperoleh. You are what you eat, demikian kata pepatah.

Apa yang kita makan akan menentukan kualitas hidup kita. Ternyata negara-negara maju pemakan nasi seperti Jepang, Korea, mungkin juga Malaysia konsumsi berasnya jauh lebih sedikit jika dibandingkan dengan bangsa Indonesia.

Kontribusi energi dan gizi yang semula didominasi nasi telah digeser pangan-pangan lain seperti pangan hewani atau kacang-kacangan. Barangkali itu sebabnya SDM negara-negara itu lebih unggul daripada SDM Indonesia.

Mengingat pangan juga berperan penting untuk mewujudkan SDM berkualitas, pemerintah harus dapat mengendalikan harga pangan sehingga pangan bergizi bisa diakses dengan mudah oleh masyarakat.

Menurunkan harga daging sapi dan membudayakan konsumsi ikan sesuai dengan slogan gemar ikan bisa menjadi entry point untuk perbaikan SDM Indonesia. (Media Indonesia)

 


(AHL)