RNI Targetkan Laba Rp148 Miliar hingga Akhir 2017

Ade Hapsari Lestarini    •    Senin, 14 Aug 2017 10:30 WIB
rni
RNI Targetkan Laba Rp148 Miliar hingga Akhir 2017
Seorang petugas menata tumpukan uang kertas (MI/USMAN ISKANDAR)

Metrotvnews.com, Tarakan: PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) menargetkan laba bersih hingga akhir tahun ini mencapai sebesar Rp148 miliar atau mengalami penurunan dibandingkan dengan tahun lalu yang mencapai sebesar Rp247 miliar.

Penurunan target laba perseroan ini disebabkan tiga hal. Demikian disampaikan Direktur Utama RNI B Didik Prasetyo, usai melakukan jalan sehat BUMN untuk Negeri, di Tarakan, Minggu 13 Agustus 2017.

"Pertama, karena harga gula turun dari Rp9.900 per kilogram (kg) menjadi Rp9.300 per kg. Harga tender sekarang Rp9.600 per kg, dan angka pesimistis Rp9.300 per kg sampai Desember," jelas dia.

Kedua, lanjut Didik, karena adanya program amnesti pajak yang diterapkan pemerintah. RNI membayar hingga Rp122 miliar untuk Rajawali 1 sehingga menggerus laba perusahaan karena program tersebut wajib. Ketiga, tahun lalu perseroan mempunyai laba eks gula giling. 2016 seluruh gula dibeli Bulog sehingga menjadi sepenuhnya milik Bulog.

"Kita enggak ada lagi. Kalau dulu selalu kita sisihkan di akhir tahun ada stok gula lima persen. Tapi 2016 enggak lagi karena wajib dibeli Bulog semua untuk stabilisasi harga," jelas dia.

Sekadar diketahui, per 31 Maret 2017 RNI membukukan laba konsolidasi sebesar Rp247 miliar atau meningkat 258 persen dibanding 2015 yang mencatat laba sebesar Rp69 miliar.

Kontribusi laba dari sektor industri gula tercatat sebesar Rp98 miliar, mengalami penurunan dibanding pencapaian 2015 yang mencatat laba Rp209 miliar. Namun demikian, dari sektor farmasi dan alat kesehatan terjadi peningkatan laba, dengan kontribusi laba setelah pajak sebesar Rp108 miliar lebih tinggi dari 2015 yang berada di angka Rp83 miliar.

Sedangkan kontribusi laba dari sektor perdagangan berada di angka Rp42 miliar, atau meningkat dari 2015 yang mencatat laba sebesar Rp22 miliar. Peningkatan kinerja ketiga sektor tersebut mampu menutup pencapaian sektor perkebunan yang masih minus Rp94 miliar.

Serta dari sisi penjualan, pada 2017, perseroan menargetkan angka penjualan sebesar Rp6,3 triliun atau meningkat sebesar 25 persen dari angka tahun sebelumnya, yaitu sebesar Rp5 triliun. Penjualan dari sektor agro, baik industri tebu maupun industri perkebunan lainnya, ditargetkan meningkat 23 persen menjadi Rp2,2 triliun, dari capaian tahun lalu sebesar Rp1,8 triliun.


(ABD)