Omzet Pedagang Ketupat hanya Capai Rp20 Juta

Kautsar Widya Prabowo    •    Rabu, 13 Jun 2018 15:35 WIB
dunia usaha
Omzet Pedagang Ketupat hanya Capai Rp20 Juta
Penjual ketupat mengalami penurunan omzet jika dibandingkan tahun kemarin. (FOTO: Medcom.id/Kautsar)

Jakarta: Menjelang Hari Raya Idulfitri, pedagang di Pasar Induk Kramat Jati membanderol harga ketupat jadi sebesar Rp10 ribu buah. Sedangkan ketupat yang masih belum dirakit dan masih berupa daun, dihargai Rp50 per lembar.

Salah satu pedagang asal Serang, Sarif menuturkan harga yang dipatok menilik kondisi di lapangan. Jika penjualan sepi, dirinya membanderol sebesar Rp8.000 per buah.

"Ya lihat dulu kondisi lapangan. Tapi kebanyakan pembeli menawarnya Rp8.000," ujarnya kepada Medcom.id, di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta, Rabu, 13 Juni 2018.

Kendati melambung jauh, ia membandingkan harga ketupat pada hari biasa dijual sebesar Rp2.000 per buah. Namun demikian, setiap tahunnya pada bulan Ramadan, harga ketupat terbilang stabil.

Menurut dia, harga yang melambung tinggi karena persediaan daun kelapa atau janur semakin menipis. Pada H-2 menjelang Lebaran, pihaknya hanya memiliki ketersediaan sebanyak 500 daun dibandingkan hari biasa yang sebesar 4.000 daun.



"Masih ada waktu jualan sampai besok (H-1 Lebaran) dan persediaan sedikit, jadi harganya segitu (tinggi)," tuturnya.

Ia menjelaskan, untuk hari esok diperkirakan harga ketupat jadi masih terpatok Rp10 ribu dan tidak melalui proses tawar menawar. Hal tersebut karena pembeli tidak memiliki pilihan selain beli atau tidak kebagian persediaan ketupat.

"Besok mentok Rp10 ribu. Yang belanja kan masih banyak, kita sudah kekurangan persediaan. Mereka (pembeli) juga sudah mengerti ditawarkan segitu langsung beli, enggak ada pilihan untuk menawar," jelasnya.

Lain halnya Sawiri, pedagang ketupat lainnya. Dia memiliki persediaan yang lebih banyak kurang lebih mencapai 100 ribu lembar. Hal tersebut karena pihaknya memiliki target pasar, serta pembeli dalam jumlah besar.

Saat ini persediaan daun kelapa yang dimilikinya hanya berkisar 8.000 lembar untuk pembeli dari salah satu toko retail di Jakarta. Namun pihaknya telah menyiapkan persediaan tambahan sebesar 1.000 lembar untuk pembelian dari umum.

"Kebanyakan pemesanan dari langganan, hari pertama jualan sudah kirim 1.000 ketupat, hari kedua 6.070 lembar, dan kemarin 18 ribu lembar," ujarnya.

Dia mengungkapkan hari ini juga sudah ada pemesanan untuk 10 ribu ketupat namun karena persediaan menipis, alhasil dirinya tidak menyanggupi seluruh permintaan.

"Ya paling saya kasih 5.000, enggak enak sama langganan yang lain, takut enggak kebagian," tuturnya.

Syarif menuturkan selama tiga hari berjualan di Pasar Induk Kramat Jati, dia baru memperoleh Rp1 juta atau setara 4.000 daun kelapa. Angka tersebut masih jauh dari targetnya sebesar Rp27,5 juta.

"Ya kemarin kayanya harga terlalu murah Rp5.000 sampai Rp8.000, karena ingin cepat abis," ujarnya.

Namun jika dibandingkan tahun sebelumnya tidak ada peningkatan keuntungan yang signifikan dalam tiga hari penjualan yang mencapai Rp1,5 juta.

Lain halnya Sawiri yang memiliki pangsa pasar lebih besar. Dia telah memperoleh Rp20 juta dari penjualan selama empat hari dengan menggelontorkan 10 ribu ketupat.

"Kalau dibandingkan tahun lalu lebih banyak, kemarin kirim 60 ribu persediaan, jadi kira-kira dapat Rp30 juta," tutupnya.

 


(AHL)