Jadi Kawasan Ekonomi Khusus, Batam Perlu Berbenah Infrastruktur

Suci Sedya Utami    •    Senin, 19 Sep 2016 22:56 WIB
batam investrade
Jadi Kawasan Ekonomi Khusus, Batam Perlu Berbenah Infrastruktur
Menko Perekonomian Darmin Nasution (kanan) Foto Antara/Widodo S. Jusuf.

Metrotvnews.com, Jakarta: Menko Perekonomian Darmin Nasution menyatakan Pemerintah mempersiapkan Batam menjadi kawasan ekonomi khusus (KEK) atau special economic zone.

Hal tersebut disampaikannya saat menyaksikan penandatangan nota kesepahaman (MoU) antara Badan Pengusahaan (BP) Batam dengan  PT Enerco RPO Internasional selaku investor asal Singapura terkait pembangunan kilang Treated Distillate Aromatic Extract (TDAE) di Batam.

Darmin mengatakan pembentukan KEK sudah diajukan konsepnya ke Presiden Jokowi. Dirinya menjelaskan, mengapa perlunya mengubah Batam dari kawasan perdagangan bebas (free trade zone/FTZ) menjadi KEK. Di era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), Indonesia merugi dengan status FTZ. Karena barang-barang dari FTZ yang masuk ke negara lain dikenai bea masuk, sementara barang-barang yang masuk ke FTZ bebas bea masuk.

"Kita bentuk KEK karena FTZ itu enggak kompetitif lagi. Karena setelah MEA berlaku, itu barang dari Malaysia atau singapura bisa masuk ke sini dengan bea masuk rendah. Semenatara dari Batam enggak bisa kalau FTZ. Makanya kita harus mengubah KEK," kata Darmin di kantornya, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, Senin (19/9/2016).

Namun, menurut Darmin masih banyak permasalahan yang masih menjadi pekerjaan rumah pemerintah untuk mewujudkan KEK di Batam. Butuh peningkatan infrastruktur seperti pelabuhan dan bandara. Dia mengatakan infrastruktur di Batam sudah cukup lama tak diperbaiki.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala BP Batam Hatanto Reksodioetro mengatakan kapasitas bandara di daerah tersebut sudah sangat padat dan mencapai titi k tertinggi yakni 5,5 juta penumpang per tahun. Untuk itu diperlukan pengembangan seperti penambahan apron dan garbarata (penyambung antara pintu pesawat dengan bandara yang berbentuk sperti belalai gajah).

"Sekarang di bandara sedang perluas apron. Saat ini pesawat bisa antre sampai satu jam hanya untuk dapatkan garbarata. Bisa dibayangkan, sekarang kita mau nambah apron, kira-kira bisa nambah tujuh hingga delapan pesawat lagi," ujar Hatanto.

Namun demikian, pihaknya tak mau bandara hanya jadi tempat di mana tempat berlabuhnya pesawat saja. BP Batam ingin agar bandara menjadi sentra yang dikelilingi aktivitas ekonomi seperti AERO City yang tentu menghasilkan pendapatan yang lebih besar.

"Mesti ada industri maintenance repair overall dari pada pesawat. Kalau bisa ada rumah sakit yang canggih. Rencananya baru dicapai 2018," tutur dia.

Lebih jauh mengenai pelabuhan, dirinya menambahkan, Batam sebagai wilayah yang strategus karena berada di Selat Malaka menjadi tempat wara-wiri kapal-kapal besar. Namun selama ini belum dimanfaatkan secara optimal sehingga pemasukan untuk negara yakni berupa pendapatan negara bukan pajak (PNBP)-nya pun juga ikut tak optimal.

"Realisasi selama ini Rp200 miliar-Rp300 miliar, kalau potensinya Rp1 triliun-Rp2 triliun," jelas dia.
(SAW)

Pascareshuffle Mau Apa? (4)

Pascareshuffle Mau Apa? (4)

1 month Ago

Republik Sentilan Sentilun malam ini bertema "Pascareshuffle Mau Apa?" menghadirkan A…

BERITA LAINNYA