LPS Wacanakan Premi PRP 0,005% dari Total DPK

Eko Nordiansyah    •    Selasa, 11 Jul 2017 19:11 WIB
lps
LPS Wacanakan Premi PRP 0,005% dari Total DPK
Ilustrasi LPS. (MI/Rommy Pujianto).

Metrotvnews.com, Jakarta: Lembaga Penjamin Simpanan berencana menetapkan iuran premi restrukturisasi perbankan (PRP) sebesar 0,005 persen dari total dana pihak ketiga (DPK). Targetnya dana yang terkumpul bisa mencapai dua hingga tiga persen dari total Pendapatan Domestik Bruto (PDB) Indonesia.

Anggota Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan Destry Damayanti mengatakan, usulan ini masih dalam tahap awal karena perlu persetujuan beberapa pihak termasuk Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK). Namun begitu, target hingga tiga persen dari PDB sesuai dengan ketentuan yang ada di Lembaga Moneter Intenasional International Monetary Fund (IMF).

"Dengan target itu, setidaknya kami punya patokan walaupun dalam kenyataannya dampak krisis itu bisa mengeluarkan biaya dengan persentase dari PDB yang lebih besar,” ujarnya ditemui di Hotel Fairmont, Senayan, Jakarta, Selasa 11 Juni 2017.

Dirinya menambahkan, dengan iuran tersebut maka dana yang terkumpul dalam setahun mencapai sekira Rp250 miliar. Jumlah ini dinilai masih jauh dari target aman sesuai dengan ketentuan IMF yaitu sebesar dua hingga tiga persen dari PDB.

“Jumlah iuran itu sangat kecil dengan target dua sampai dengan tiga persen dari PDB. Kalau PDB Indonesia sekitar Rp12.000 triliun maka dibutuhkan sekitar Rp240 triliun dana yang perlu dikumpulkan,” jelas dia.

Lebih lanjut, dirinya menyebut jika LPS bakal menentukan sejumlah syarat agar industri perbankan tak merasa keberatan. Salah satunya adalah grace period di mana LPS akan menganalisa berapa lama perbankan membutuhkan masa penyesuaian.

“Kalau dilihat secara industri memang kondisi perbankan masih oke, tetapi dilihat secara masing-masing bank di Indonesia sangat segmentif sekali. Jadi, ada yang kondisinya cukup berat, ada yang over likuiditas, ada yang kekurangan likuiditas,” pungkasnya.


(SAW)