Perbarindo Nilai Penurunan Sektor Produktif Pengaruhi NPL di BPR

Eko Nordiansyah    •    Senin, 10 Jul 2017 15:49 WIB
perbanas
Perbarindo Nilai Penurunan Sektor Produktif Pengaruhi NPL di BPR
Illustrasi. ANT/Yudhi Mahatma

Metrotvnews.com, Jakarta: Ketua Persatuan Bank Perkreditan Rakyat Indonesia (Perbarindo) Joko Suyanto menilai jika kenaikan rasio kredit bermasalah atau Non Performing Loan (NPL) di industri Bank Perkreditan Rakyat (BPR) dipengaruhi oleh menurunnya kemampuan debitur untuk membayarkan kewajibannya.

Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan NPL di industri BPR pada April 2017 mencapai 6,98 persen. Angka ini meningkat dibandingkan NPL pada Desember 2016 dan Januari 2017 yang masing-masing mencapai 5,83 persen dan 6,48 persen.

"Sebenarnya begini, kalau kita petakan kan (NPL) modal kerja dan konsumsi, tapi justru yang sektor produktif yang NPL-nya sedang naik," kata Joko ditemui di Hotel Aryaduta, Jakarta Pusat, Senin 10 Juli 2017.

Dirinya menambahkan, kenaikan NPL yang saat ini terjadi bukan lah suatu hal yang mengkhawatirkan. Menurut dia NPL di BPR rata-rata naik empat hingga enam persen atau masih dalam kategori wajar.

"Kenaikan NPL kalau kita lihat data BPR sebenarnya naiknya signifikan juga enggak. Itu bukan sesuatu yang mengkhawatirkan, tapi NPL itu mencerminkan kondisi daripada khususnya nasabah itu capacity repayment-nya turun," jelas dia.

Untuk itu, Joko menegaskan jika BPR harus tetap berhati-hati dalam menyalurkan kredit agar NPL tidak terus naik. Sementara untuk kredit yang sudah bermasalah, dirinya berharap agar BPR-BPR bisa melakukan restrukturisasi dengan cepat.

"Tapi banyak variabel lain yang kita lakukan, misal tingkat prudent-nya ketika kita memutus kredit kita tingkatkan. Di sisi lain monitoring, pembinaan terhadap para pelaku UMKM supaya mereka menjalankan usaha dengan track yang baik sehingga repayment capacity dia enggak turun," pungkasnya.



(SAW)