Cuaca Buruk, Cabai Merah Merangkak Naik

   •    Minggu, 16 Jul 2017 17:01 WIB
cabai
Cuaca Buruk, Cabai Merah Merangkak Naik
Cabai. MI/ARYA MANGGALA.

Metrotvnews.com, Jakarta: Hujan deras yang terjadi dibeberapa daerah telah menyebabkan petani cabai  rawit merah telah merangkak naik tetapi banyak petani lainnya mengalami  kesulitan untuk menanam karena minimnya pasokan air hingga menyebabkan  ratusan hektare (ha) lahan gagal panen. Sedangkan lahan cabai lainnya telah mengalami  serangan hama terutama pada daun cabai hingga produksi panen mengalami  penurunan.

Petani cabai Kecamatan Taraju, Ahmad Yani mengatakan harga cabai rawit merah sekarang ini telah masih merangkak naik dari harga Rp45.000 menjadi Rp60.000 per kilogram (kg). Sedangan dalam mengatasi masalah tersebut pemerintah daerah harus turun terutama melihat langsung kondisi kenaikan yang rata-rata setiap pasar telah merangkak naik.

"Kondisi sekarang ini tidak menentu terkadang hujan dan kadang panas hingga membuat tanaman cabai merah sebagian gagal panen dan lainnya terserang hama hingga kebutuhan cabai mengalami kenaikan. Sedangkan banyak lahan tanaman cabai dibeberapa daerah ditinggalkan terutama pasokan air minim membuat tanaman tersebut mati," katanya, Minggu (16/7/2017).

Selain itu, Yani mengungkapkan tanaman cabai merah yang biasanya sering dikunjungi berada di Kecamatan Singaparna, Sukamanteri Ciamis dan Kabupaten Garut tetapi para petani ada sebagian masih melakukan pengolahan dan penanaman tapi petani lainnya mengurungkan niatnya untuk kembali menanam mengingat banyak petani mengalami kerugian terutama kualitas cabai rusak.

"Kondisi cuaca sekarang memang tidak menentu bagi petani yang biasanya menanam diluas lahan 200 hektare dan mereka juga telah mengalami kesulitan terutama minimnya pasokan air hingga menyebabkan banyak petani mengurungkan niatnya untuk menanam. Sedangkan ada beberapa petani juga kesulitan menanam cabai karena bibit unggulan tidak mudah ditanam diluas lahan tersebut," ujarnya.

Sementara itu, Ketua Gabungan Kelompok Tani Karangsari, Kecamatan Sukamantri, Ciamis, Pipin Arif Apilin mengatakan kondisi cuaca buruk yang terkadang hujan dan panas tersebut diikuti dengan minimnya pasokan air menjadikan proses pembuahan cabai tidak maksimal hingga banyak pohon telah mengalami kriting dan mengering tapi tanaman masih bisa hidup dengan kondisi memerihatinkan.

"Kondisi normal, dari satu pohon rata-rata mampu menghasilkan satu kilogram tetapi sekarang ini anjlok hingga bisa mendapatkan setengah kilogram saja. Selain produksi tidak maksimal bunga cabai juga banyak yang mati akibat keringnya lahan pertanian terutama pembuatan sumur bor yang telah dibuatnya tidak maksimal digunakan," katanya.

Pipin mengungkapkan musim kemarau tahun lalu ada petani telah membuat sumur bor tetapi pasokan airnya memang terbatas untuk lahan pertanian yang ditanam di luas lahan 100 hektare mengingat kondisi debit air di aliran sungai tersebut juga menurun.

"Musim kemarau panjang yang terjadi tahun lalu mengalami kerugian sangat besar dan kali ini petani juga dibayangi kerugian terutama biaya produksi satu hektar kebun cabai mencapai Rp60 juta tetapi biaya produksi antara Rp70 sampai Rp80 juta hingga pada musim tanam petani bisa panen sebanyak 12 kali tetapi saat kondisi sekarang ini hanya bisa di panen lima kali," paparnya.


(SAW)