BI Dorong Akses Permodalan untuk Ekonomi Kreatif

   •    Rabu, 24 Oct 2018 15:03 WIB
bank indonesiaekonomi kreatif
BI Dorong Akses Permodalan untuk Ekonomi Kreatif
Logo Bank Indonesia di Komplek Kantor Bank Indonesia, Jakarta (MI/ROMMY PUJIANTO)

Solo: Bank Indonesia (BI) mendorong terbukanya akses permodalan sektor ekonomi kreatif khususnya bidang seni pertunjukan untuk mengembangkan usaha. Langkah ini diharapkan bisa memperbesar pertumbuhan industri ekonomi kreatif di masa-masa mendatang dan nantinya berkontribusi lebih banyak terhadap pertumbuhan ekonomi.

"Masalah klasik di UMKM termasuk di sini bidang seni pertunjukan adalah akses permodalan. Dalam hal ini BI ada kerja sama dengan Bekraf untuk mendorong akses pembiayaan," kata Kepala BI Kanwil Surakarta Bandoe Widiarto, seperti dikutip dari Antara, Rabu, 24 Oktober 2018.

Ia mengatakan BI terus mendorong peningkatan akses pembiayaan UMKM melalui tiga kebijakan, yaitu kebijakan rasio kredit UMKM minimum oleh perbankan, peningkatan kapasitas SDM perbankan dan UMKM, serta pengembangan infrastruktur keuangan pendukung.       

"Mengenai rasio kredit UMKM, BI telah menetapkan agar perbankan dapat menyalurkan kredit UMKM secara bertahap minimum sebesar lima persen pada 2015, lalu 10 persen pada 2016, kemudian 15 persen pada 2017, dan 20 persen pada 2018," tuturnya.

Pihaknya mencatat sampai dengan Mei 2018, rasio kredit UMKM mencapai 20,69 persen dari total pembiayaan perbankan. Adapun program Bekraf Financial Club merupakan perwujudan dari salah satu butir kerja sama Bank Indonesia dan Bekraf, khususnya terkait pemberdayaan UMKM dalam rangka mendukung pengendalian inflasi, peningkatan akses, dan jangkauan pembiayaan.

"Melalui Bekraf Financial Club ini diharapkan perbankan dapat meningkatkan exposure-nya kepada industri kreatif subbidang seni pertunjukan sehingga mendukung pengembangan seni pertunjukan," tukasnya.

Ia menilai program Bekraf Financial Club tersebut juga merupakan program yang strategis dan penting karena dapat menjembatani antara perbankan dan pelaku usaha, serta dapat mengurangi asymetric information yang disebabkan perbankan belum mengetahui usaha industri kreatif, termasuk di bidang seni pertunjukan.

"Pada dasarnya kami mendukung kegiatan ini karena industri kreatif subsektor seni pertunjukan merupakan salah satu unsur pendukung pariwisata yang saat ini diproyeksikan menjadi sektor yang dapat menghasilkan devisa dalam waktu cepat," pungkasnya.


(ABD)