Cerita Sang Pengrajin Batik Cirebon

Angga Bratadharma    •    Selasa, 04 Dec 2018 12:06 WIB
batikbsm
Cerita Sang Pengrajin Batik Cirebon
Supriyatno (kiri) bersama dengan istri (kanan) dan pegawai Mandiri Syariah di Desa Kalitengah, Kecamatan Tani, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat (Foto: Mandiri Syariah)

Kuningan: Siang itu matahari bersemangat memancarkan cahayanya di Desa Kalitengah, Kecamatan Tani, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. Untungnya pohon yang rindang dan bayangan rumah bisa menjadi di antara tempat berteduh sejenak. Adapun sejumlah rumah terlihat membuka lebar daun pintu dan jendela agar sirkulasi udara bisa meredakan teriknya matahari.

Terlihat hanya segelintir orang lalu lalang, tentu dengan berbagai keperluan masing-masing. Kala itu, memang paling nikmat jika menyeruput es teh manis atau es jeruk seraya duduk di perkarangan rumah menikmati sesekali kehadiran angin semilir untuk melawan panas yang menyengat. Atau mungkin tidur siang bisa menjadi pilihan menghindari teriknya matahari.

Namun, kondisi tersebut justru tidak menghentikan beberapa pengrajin batik di Desa Kalitengah menorehkan canting di kain yang sedang dipegangnya. Dengan cekatan, tepatnya di Desa Kalitengah Kec Tengah Tani, Kabupaten Cirebon, tangan para pengrajin menciptakan kain batik indah khas Cirebon.

Seakan sudah hapal di luar kepala, tangan para pengrajin terlihat begitu mudah membuat pola batik. Adapun teknik pembuatan batik Cirebon di antaranya dengan membuat garis tipis-tipis atau garis kontur pola atau disebut wit pada kain yang akan dibatik. Garis wit ini sangat tipis tetapi memiliki warna yang lebih tua dibandingkan dengan warna kain yang akan dibatik.


Pengrajin batik yang merupakan pegawai Supriyatno sedang membuat batik tulis (Foto: Mandiri Syariah)
 
Pada proses pengerjaannya, penggambar pola hanya menggambar satu goresan garis wit. Tahapan selanjutnya membuat tembok atau menutup bagian dasar kain yang tidak perlu diwarnai di mana pembuat tembok harus membuat sendiri garis wit tersebut. Di sini seorang pembuat tembok harus memiliki keahlian khusus agar terbentuk pola batik sesuai dengan yang diinginkan.

Adapun motif megamendung menjadi salah satu motif yang sangat populer sampai-sampai jadi ikon batik Cirebon. Nama megamendung berasal dari kata mega yang berarti awan dan mendung yang maknanya cuaca mendung. Artinya motif ini melambangkan awan pembawa hujan sebagai lambang kesuburan dan pemberi kehidupan.

Belasan Tahun Melintang di Bisnis Batik

Saat di Desa Kalitengah, Medcom.id berkesempatan bertemu dengan salah satu pengrajin batik yang sudah belasan tahun melintang di bisnis batik. Dalam kesempatan itu, pengrajin batik yang merupakan nasabah Bank Syariah Mandiri atau Mandiri Syariah ini tidak berkeberatan melakukan obrolan santai di rumahnya.

Kala itu, buah-buahan dan sejumlah kue disajikan. Sejumlah awak media yang diajak Mandiri Syariah untuk bertemu salah satu nasabahnya ini pun tidak sungkan duduk di teras usai dipersilakan pemilik rumah. Wiyanto, salah satu jurnalis media online, bahkan terlihat tidak malu menjadi orang pertama yang menyantap sajian dan menyimak obrolan dengan tuan rumah.

"Saya mulai usaha (batik) sejak 1999. Awalnya delapan potong saja dan motifnya namanya batik reformasi. Prosesnya memang saat zaman reformasi. Waktu itu masih krisis," kata Supriyatno, membuka obrolan, saat berbincang di rumahnya Blok Pekauman RT 01 RW 01, Desa Kalitengah, Kec Tengah Tani, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, belum lama ini.


Supriyatno (kaos putih) bersama dengan istri (kerudung biru) dan pegawai Mandiri Syariah di tempat produksi batik tulis milik Supriyatno (Foto: Mandiri Syariah)

Batik reformasi yang disebutkan Supriyatno tidak terlepas dari situasi dan kondisi politik saat itu yakni terjadinya perubahan besar dari Orde Baru ke era Reformasi. Dia tidak memungkiri saat itu menjalankan bisnis batik terbilang sulit karena situasi dan kondisi politik yang sedang memanas dan memengaruhi aktivitas bisnis.

Meski demikian, Supriyatno yang awalnya mencetak batik sendiri bersama dengan istrinya dan kini sudah memiliki 13 karyawan yang bekerja untuk bengkel batiknya sudah bisa menikmati manisnya bisnis batik. Jika di awal untungnya hanya Rp10 ribu hingga Rp15 ribu per potong, sekarang keuntungannya sudah berlipat ganda.

Adapun bisnis batik yang digelutinya ini merupakan turun temurun dari orangtuanya. Saat ia memegang kendali bisnis batik tersebut, modal awal yang dimiliki hanya sebesar Rp2 juta. Meski modalnya terbilang kecil, salah satu prinsip bisnis yang ia pegang agar bisnis batiknya terus mempertahankan pesonanya adalah dengan mempertahankan kualitas batik yang dihasilkan.

"Kita masih bertahan karena menjaga kualitas dan warna berani pewarnaan. Dulu saya bisa menghasilkan 100 potong per minggu. Kini saya bisa menghasilkan 100 potong dalam sehari. Kalau keuntungannya sendiri sekarang sudah Rp20 juta tiap bulan," ungkap pria yang kini berusia 42 tahun itu.

Awalnya ia hanya menjajakan batiknya di Cirebon. Namun, secara perlahan mulai memasarkan batik yang dihasilkan ke Solo. Meski kain batik yang dihasilkan adalah hasil batik tulis dan memiliki kualitas tinggi, Supriyatno belum berani melakukan ekspansi ke luar Cirebon dan Solo. Ia beralasan masih takut ditipu dan tetap menjaga model bisnis seperti sekarang.


Supriyatno (kiri) bersama dengan istri (kanan) dan pegawai Mandiri Syariah di Desa Kalitengah, Kecamatan Tani, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat (Foto: Mandiri Syariah)

"Penjualan batik ke Cirebon dan Solo. Kalau Solo batiknya khas Solo. Kalau di Cirebon batiknya megamendung dan keratonan. Kalau ke Solo itu saya masuknya lewat toko. Kalau ke luar dari daerah itu saya belum. Masih takut dibohongin. Kalau untuk ikut pameran biayanya besar," ungkap pria yang memiliki tiga anak ini.

Sebelum azan zuhur berkumandang kala itu, Supriyatno bercerita bahwa ia sering terkendala banyak hal. Bahkan persaingan yang kian sengit mengharuskan dirinya memutar otak agar tidak terhempas dan tetap kokoh menjalankan bisnis. Adapun salah satu persoalan utama adalah berkaitan dengan permodalan.

Namun, di 2013 menjadi salah satu tahun perubahan bisnisnya. Pada tahun itu, Supriyatno mendapatkan bantuan pinjaman dari Mandiri Syariah. Awal pinjaman yang didapatkan sebesar Rp50 juta dengan skema pembiayaan modal kerja dengan tenor dua tahun. Modal tersebut ia alokasikan untuk pembelian alat cetak batik dan bahan untuk pembuatan batik tulisnya.

Dalam kesempatan itu, pegawai Mandiri Syariah Cabang Klered Yunus Rusdiyanto yang mendampingi Supriyatno mengungkapkan karena Supriyatno merupakan nasabah Mandiri Syariah yang terbilang patuh dalam menjalankan kewajibannya, Mandiri Syariah akhirnya berulang kali memberikan kepercayaan dengan terus memberikan pembiayaan.

Adapun sekarang ini pembiayaan yang Supriyatno dapatkan mencapai Rp200 juta dengan angsuran per bulan Rp6,5 juta disertai bagi hasil 7-8 persen kepada Mandiri Syariah. Mandiri Syariah memposisikan Supriyatno sebagai nasabah mikro dan dinilai memiliki peluang menjadi pengusaha yang terus tumbuh di masa mendatang.



Sejumlah awak media saat berkunjung ke kediaman Supriyatno di Blok Pekauman RT 01 RW 01, Desa Kalitengah, Kec Tengah Tani, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat (Foto: Ika/Mandiri Syariah)


Di sisi lain, meski dirinya mendapatkan pembiayaan untuk modal kerjanya, namun Supriyatno berharap dari segi pemasaran bisa terus dibantu. Salah satu yang ia harapkan adalah diajak dalam berbagai macam pameran. Dirinya tidak menampik pernah diajak oleh Mandiri Syariah, tetapi itu hanya terjadi sekali saja. Supriyatno berharap bisa diajak ke pameran lainnya.

"Harapannya bisa dibantu dari sisi pemasaran. Kalau sekarang, selain bisnis batik saya juga sibuk bisnis kavling tanah. Pagi mengurus pekerja batik, siang sampai sore mengurusi bisnis kavling tanah," kata pria yang memiliki istri bernama Dian ini.

Sementara itu, Mandiri Syariah berkomitmen untuk mendukung segmen Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dalam rangka mendorong pertumbuhan ekonomi di sektor riil. Per September 2018, portofolio pembiayaan UMKM Mandiri Syariah mencapai sebesar 20 persen dari total pembiayaan di mana jumlah tersebut sesuai dengan ketentuan OJK.

 


(ABD)


Solusi Rangkap Jabatan BP Batam Dinilai Melanggar UU

Solusi Rangkap Jabatan BP Batam Dinilai Melanggar UU

16 hours Ago

Keputusan pemerintah melebur BP Batam ke Pemerintah Kota Batam mendapat respons dan tanggapan b…

BERITA LAINNYA