Pemerintah Perkuat Produk Jadi dari Kelapa Sawit

Nia Deviyana    •    Senin, 04 Feb 2019 15:08 WIB
cpoHilirisasi Industri
Pemerintah Perkuat Produk Jadi dari Kelapa Sawit
Illustrasi. MI/GINO F HADI.

Jakarta: Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution terus mendorong hilirisasi atau meningkatkan nilai tambah dari kelapa sawit. Seperti diketahui, Indonesia merupakan salah satu penghasil kelapa sawit terbesar di dunia. 

"Ke depan pemerintah akan fokus mengembangkan hilirisasi kelapa sawit sehingga kita tidak hanya ekspor crude palm oil (cpo), tapi juga dalam produk-produk turunannya," ujar Darmin di kantornya, Jakarta, Senin, 4 Februari 2019.

Data Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) hingga Oktober 2018 menunjukkan pasokan sawit nasional berada di kisaran 4,40 juta ton. 

Sementara, ekspor produk kelapa sawit dan turunannya pada Oktober 2018 mencapai 3,35 juta ton, naik 5 persen dibandingkan September 2018. Peningkatan ini, salah satunya didorong melonjaknya permintaan Tiongkok di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Pada kesempatan yang sama, Darmin menunjukkan sebuah riset dari International Union for Conservation of Nature (IUCN) tentang pemanfaatan kelapa sawit untuk memenuhi kebutuhan minyak nabati. Dia bilang, pemanfaatan kelapa sawit lebih hemat dari segi lahan dibandingkan komoditas lainnya.  

"Telah disampaikan bahwa untuk memproduksi 1 ton minyak nabati, hanya diperlukan 0,26 hektare lahan kalau pakai kelapa sawit. Kalau dari bunga matahari diperlukan 1,43 hektare, kedelai butuh 2 hektare," jelas Darmin.

Artinya, diperlukan lahan delapan sampai sembilan kali lipat lebih besar apabila menggunakan komoditas non sawit untuk memenuhi kebutuhan minyak nabati. 

"Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi, studi ini menjadi sebuah permulaan yang bagus untuk mengembangkan industri kelapa sawit di Indonesia," kata Darmin.

Saat ini, minyak kelapa sawit berkontribusi sebesar 35 persen dari total kebutuhan minyak nabati dunia, dengan konsumsi terbesar di India, Tiongkok, dan Indonesia. Adapun proporsi penggunaannya 75 persen untuk industri pangan, dan 25 persen untuk industri kosmetik, produk pembersih, serta biofuel.



(SAW)