BPS Sebut Ketimpangan di Perkotaan Masih Tinggi

Suci Sedya Utami    •    Rabu, 03 Jan 2018 09:33 WIB
pertumbuhan ekonomikemiskinanbpsekonomi indonesia
BPS Sebut Ketimpangan di Perkotaan Masih Tinggi
Gedung BPS (FOTO ANTARA/Andika Wahyu)

Jakarta: Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat angka ketimpangan atau gini ratio di Indonesia menurun tipis pada September 2017. Ketimpangan turun sebanyak 0,002 dari 0,393 di Maret 2017 ke 0,391 di September 2017. Posisi tersebut juga turun 0,003 dibandingkan dengan posisi di September 2016.

"Memang turun tipis tapi angka ini menunjukkan ada upaya menurunkan ketimpangan. Sebab untuk menurunkan ketimpangan itu lumayan berat," kata Ketua BPS Suhariyanto, di Kantor Pusat BPS, Jakarta Pusat, Selasa, 2 Januari 2018.

Apabila dirinci lebih dalam, ketimpangan di perkotaan masih menjadi pekerjaan rumah yang besar bagi pemerintah. Sebab tingkat ketimpangannya masih lebih tinggi dibandingkan dengan di perdesaan. Ketimpangan di perkotaan masih 0,404, atau turun 0,003 dibandingkan dengan Maret 2017 yang 0,407 dan turun 0,005 dibandingkan dengan di September 2016.

Sementara di perdesaan angka ketimpangan September 2017 sebesar 0,320. Angka tersebut masih sama dibandingkan dengan Maret lalu, namun meningkat dibandinngkan dengan September 2016.

Pada distribusi pengeluaran selama September 2016 ke September 2017 untuk pengeluaran kelompok terbawah levelnya sebesar 16,22 persen. Artinya berada pada level ketimpangan sedang. Sementara di perdesaan levelnya 20,25 persen atau level ketimpangannnya rendah.

Angka tersebut menunjukkan ketimpangan kelompok masyarakat terbawah di perkotaan masih lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok masyarakat terbawah di perdesaan. "Ini jadi peringatan utama ketimpangan ada di daerah perkotaan, Bagaimana menurunkan ketimpangan diperkotaan menjadi kunci menurunkan ketimpangan secara umum," jelas Suhariyanto.

Lebih jauh, dari 34 provinsi, terdapat sembilan provinsi yang angka ketimpangannya di atas angka nasional, yakni DIY 0,440; Sulsel 0,429; Jatim 0,415; DKI Jakarta 0,409; Gorontalo 0,405, Sultra 0,404; Papua 0,398; Sulut 0,394 dan Jabar 0,393. Adapun ketimpangan yang terendah berada di Bangka Belitung 0,276.

 


(ABD)