Menko Damin Heran Upah Buruh Makin Tergerus

Suci Sedya Utami    •    Jumat, 17 Feb 2017 10:56 WIB
upah
Menko Damin Heran Upah Buruh Makin Tergerus
Ilustrasi. (FOTO: ANTARA/Vitalis Yogi Trisna)

Metrotvnews.com, Jakarta: Menko Perekonomian Darmin Nasution mempertanyakan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang merilis mengenai perkembangan upah buruh.

Pasalnya, jika dilihat dengan data inflasi, seharusnya upah para buruh naik bukan turun. Dia pun heran mengapa hal tersebut bisa terjadi, karena inflasi dua tahun ke belakang bisa dibilang relatif kecil, atau malah di bawah target.

"Karena tahun lalu inflasinya cuma 3,02 persen tahun sebelumnya 3,35 persen. Padahal UMR itu naiknya masih di atas inflasi, masih bergabung inflasi dengan pertumbuhan jadi mendekati 10 persen naiknya. Aneh kalau bilang tergerus. Nanti kita tanya BPS ini data apa?" kata Darmin di kantornya, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, Kamis 16 Februari 2017.

Baca: Peningkatan Upah Buruh Tani hingga PRT Terpangkas Inflasi

Data BPS menyebutkan rata-rata upah buruh pada Januari naik sebesar 0,77 persen dibanding Desember yakni dari Rp48.627 menjadi Rp49.000. Namun upah riilnya turun 0,02 persen dari Rp37.072 jadi Rp37.064.

Begitu juga dengan upah buruh bangunan, rata-rata nominalnya naik 0,28 persen dari Rp83.190 menjadi Rp83.432. Namun upah riilnya turun 0,67 persen dari Rp65.654 jadi Rp65.211.

Upah buruh potong wanita pun demikian, rata-rata nominalnya naik 0,55 persen dari Rp25.015 jadi Rp25.152, di sisi lain upah riilnya turun 0,42 persen dari Rp19.742 jadi Rp19.667.

Serta upah pembantu rumah tangga rata-rata nominalnya naik 0,6 persen dari Rp365.273 jadi Rp367.465 namun upah riilnya turun 0,37 persen dari Rp288.275 jadi Rp287.217.

Nilai nominal riil upah menggambarkan daya beli petani dari upah yang diperoleh. Artinya jika upah riilnya menurun maka daya belinya pun tergerus.


(AHL)