BI Dorong Gerakan Nontunai di Papua

Eko Nordiansyah    •    Jumat, 13 Oct 2017 16:41 WIB
transaksi non tunai
BI Dorong Gerakan Nontunai di Papua
Bank Indonesia (BI). (FOTO MI/USMAN ISKANDAR)

Metrotvnews.com, Jayapura: Bank Indonesia (BI) secara resmi membuka pekan Gerakan Nasional Non Tunai (GNNT) Papua 2017. Mengangkat tema 'Dengan Nontunai: Lebih Mudah, Lebih Aman, dan Lebih Keren!', BI ingin masyarakat Papua kompak untuk memulai kebiasaan bertransaksi secara nontunai.

Deputi Gubernur BI Sugeng menjelaskan, sejak 14 Agustus 2014 Bank Indonesia telah mencanangkan GNNT ini sebagai upaya mendorong masyarakat menggunakan sistem dan instrumen pembayaran nontunai dalam transaksi pembayaran. Apalagi masyarakat dunia juga kini bertransaksi nontunai dalam kegiatan ekonominya.

"Bukan hanya di negara-negara maju, bahkan di negara-negara yang dijuluki negara dunia ketiga seperti di Afrika pun, telah bergerak menuju masyarakat yang bersifat Less Cash Society," kata Sugeng dalam sosialisasi GNNT di Papua, seperti dalam keterangan tertulisnya, Jumat 13 Oktober 2017.

Dirinya juga mengapresiasi kekompakan dan usaha perbankan dan penerbit instrumen pembayaran nontunai di Provinsi Papua untuk memperkenalkan penggunaan transaksi nontunai. Sebab memang diperlukan kegiatan sosialisasi yang masif, sistematis dan terkoordinasi untuk memperkenalkan instrumen pembayaran nontunai di Papua.

BI memandang hal yang sama juga dibutuhkan oleh daerah lain di Indonesia sehingga apa yang dilakukan oleh BI, OJK, bank di Papua ini patut dicontoh oleh daerah lain. Dirinya berharap perbankan membantu pemerintah daerah di 29 Kabupaten/Kota di Papua agar dapat segera menerapkan transaksi pembayaran nontunai dalam pengelolaan keuangan daerah, baik dari sisi pendapatan maupun belanja.

Menurut dia, ada banyak sekali manfaat yang diberikan oleh suatu Less Cash Society. Pertama, adalah kepraktisan dan keamanan dalam bertransaksi. Kedua, secara makroekonomi, efisiensi ekonomi yang dilakukan sangat besar. Sistem perbankan juga dapat menekan biaya pengelolaan kas tunai, sementara bank sentral dapat menghemat triliunan biaya pencetakan dan pendistribusian uang tunai.

Ketiga, pencatatan transaksi yang terjadi secara otomatis dan transparan memudahkan monitoring dan perencanaan dunia usaha maupun perekonomian secara umum. Keempat, sirkulasi uang dalam perekonomian dapat berlangsung secara lebih cepat sehingga mendorong pertumbuhan ekonomi.

"Hal yang tak kalah pentingnya, komunitas masyarakat yang basis transaksinya nontunai, membuka kesempatan bagi seluas-luasnya anggotanya untuk mengakses layanan keuangan yang mungkin selama ini hanya dapat dinikmati oleh kelompok tertentu atau eksklusif," pungkasnya.

 


(AHL)