Indonesia Dinilai Perlu Maksimalkan Ekonomi Digital

Angga Bratadharma    •    Kamis, 09 Nov 2017 15:28 WIB
ekonomi digital
Indonesia Dinilai Perlu Maksimalkan Ekonomi Digital
Ilustrasi. (FOTO: AFP)

Metrotvnews.com, Jakarta: Perkembangan zaman sekarang ini telah memberikan dorongan untuk semua lini bergerak maju, termasuk ekonom digital. Bahkan, kondisi tersebut memunculkan masyarakat digital yang akhirnya industri jasa keuangan perlu mengoptimalkan potensi tersebut agar 'kue bisnis' tidak diambil oleh pihak asing.

Pengamat IT Heru Sutadi menyebut, masyarakat digital adalah mereka yang berselancar di dunia maya dan biasanya menggunakan komputer atau telepon pintar yang dimiliki. Adapun kondisi seperti ini bisa dimanfaatkan lantaran ekonomi digital bisa memberikan dorongan lebih terhadap laju perekonomian Indonesia.

"Disampaikan juga oleh Presiden Jokowi bahwa pertumbuhan ekonomi tidak akan mencapai 6-7 persen jika ekonomi digital ini tidak dimaksimalkan. Kontribusi ekonomi digital ini bisa sekitar 1,2 persen hingga 1,5 persen tambahannya terhadap pertumbuhan ekonomi," ungkap Heru, dalam sebuah diskusi mengenai Transformasi Digital Keuangan, di Jakarta, Kamis 9 November 2017.

Hingga kuartal II-2017, kata Heru, perkembangan transaksi financial technology (fintech) di dunia mencapai USD8,4 miliar dengan 293 kesepakatan. Sedangkan di Asia Pasifik saja, transaksi fintech mencapai USD760 juta dengan 51 kesepakatan. Namun sayangnya, Indonesia belum terlihat signifikan dalam aspek fintech ini.

"Indonesia belum terlalu terlihat. Di Asia ini ekonomi digital yang dominasi adalah Tiongkok, Singapura, dan India. Kalau di Indonesia sendiri kan baru ramai tentang fintech ini sekitar 1-2 tahun belakangan ini saja. Tentu saja ini menjadi evaluasi kenapa kita tertinggal," tuturnya.

Ia tidak menampik ada sejumlah persoalan terkait perkembangan ekonomi digital termasuk didalamnya digital keuangan di Indonesia. Salah satunya adalah kebijakan Bank Indonesia (BI) yang dinilai terlalu moderat dan sangat berhati-hati. Hal ini tentu tidak negatif, tetapi tentu perlu dicarikan solusi agar ekonomi digital bisa benar-benar memberi keuntungan.

"Saya sudah bicara ini sejak 2008 tapi mulai ramainya itu 1-2 tahun belakangan ini. BI memang saat itu terbilang moderat. Karena memang menekankan tentang KYC, adanya pengawasan ketat money laundry, tentang dana teroris, dan lainnya. Tapi saya rasa, perlu ada upaya untuk bisa menyelesaikan tantangan ini," pungkasnya.

 


(AHL)