Pemerintah Permudah Bulog Serap Gabah Petani

   •    Selasa, 13 Feb 2018 12:41 WIB
bulog
Pemerintah Permudah Bulog Serap Gabah Petani
Ilustrasi. (Foto: Antara/Risky).

Jakarta: Harga gabah kering panen (GKP) di tingkat petani yang rata-rata berada di kisaran Rp5.000 per kg membuat Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik (Perum Bolog) kesulitan menyerap komoditas tersebut. Pasalnya harga pembelian pemerintah (HPP) untuk GKP ditetapkan hanya Rp3.700.

Setelah melihat kondisi itu, pemerintah memutuskan untuk menaikkan angka fleksibilitas dari 10 persen menjadi 20 persen. Keputusan itu diambil dalam rapat koordinasi terbatas antara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Kementerian Perdagangan, Kementerian Pertanian, Bulog, dan beberapa pihak terkait, belum lama ini.

Seusai pemaparan dalam Seminar Fraksi Partai Golkar DPR bertajuk Kemandirian Pangan untuk Kesejahteraan Rakyat di Gedung DPR, Jakarta, kemarin, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengatakan dengan penaikan itu, nantinya Bulog bisa membeli GKP maksimal 20 persen di atas HPP.

Enggar melanjutkan, kewenangan fleksibilitas 20 persen tersebut akan berlaku hingga April mendatang untuk kemudian ditinjau kembali. "Tapi kalau Maret bisa dikurangi (fleksibilitasnya), ya, tidak apa-apa," ucapnya.

Menurut Enggar, penaikan angka fleksibilitas 20 persen juga upaya untuk menjaga harga GKP di tingkat petani yang jatuh. Namun, penaikan 20 persen itu tidak merata di seluruh daerah, tetapi berdasarkan harga GKP di daerah masing-masing.

"Kalau kita tidak naikkan, kasihan juga petani. Ini untuk gabah. Intinya kita lihatlah, kalau suplai banyak, kan, fleksibilitas tidak harus dipakai sampai 20 persen," tukasnya.

Di tempat yang sama, Menteri Pertanian Amran Sulaiman menyambut baik penaikan fleksibilitas 20 persen tersebut. Menurutnya, hal itu baik bagi petani yang harga gabahnya jatuh. "Ya Alhamdulillah bagi petani," sebutnya.

Direktur Utama Perum Bulog Djarot Kusumayakti mengatakan Bulog siap menjalankan ketentuan tersebut setelah surat dari Menteri Perdagangan diterbitkan. "Tapi belum efektif sebelum ada risalah rapat. Setelah itu, keluar surat Mendag. Sedang disiapkan dokumen tertulisnya," kata Djarot.

Djarot mengungkapkan, dengan penaikan fleksibilitas itu, target penyerapan 2,2 juta ton hingga Juni diharapkan bisa tercapai asalkan petani bersedia menjual GKP sebesar Rp4.440 (20 persen di atas HPP) atau lebih rendah daripada harga pasar saat ini Rp5.000. "Kecuali para petani tidak mau jual seharga itu," kata Djarot. (Media Indonesia)


(AHL)


Bedah Editorial MI: Membendung Efek Turki

Bedah Editorial MI: Membendung Efek Turki

7 hours Ago

Perlambatan ekonomi Turki sebagai akibat terjerembapnya lira, mata uang mereka, hingga lebih da…

BERITA LAINNYA