Produk Narapidana Indonesia Kebanjiran Pesanan dari Luar Negeri

Desi Angriani    •    Rabu, 11 Oct 2017 22:36 WIB
umkm
Produk Narapidana Indonesia Kebanjiran Pesanan dari Luar Negeri
Illustrasi (ANT/Aditya Pradana Putra).

Metrotvnews.com, Banten: Siapa sangka hidup di balik jeruji besi alias lembaga pemasyarakatan (Lapas) membuat para tahanan menjadi mati akal dan tidak bisa menghasilkan karya. 

Selama masa tahanan, para narapidana dididik untuk mandiri secara ekonomi dengan belajar menciptakan barang yang laku dijual. Bahkan produk buatan para narapidana ini telah mampu menembus pasar dunia.

Penjaga Lapas Narkotika Rumah Tahanan (Rutan) Klas I Cipinang Haidar Fikri mengatakan, produk furniture berbahan rotan hasil kerajinan para narapidana Rutan Cirebon berhasil masuk ke pasar Singapura, Jepang, Jerman dan Perancis. Produk tersebut diminati oleh pasar ekspor karena memiliki kualiatas baik, rapih, dan sesuai kreasi pesanan ekspor.

"Jadi ada beberapa produk napi yang di ekspor ada bangku satu set dengan meja dari rotan sintetis. Itu ada kita udah impor ada yang ke Jerman dan Prancis," katanya kepada Metrotvnews.com dalam pameran Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD, Tangerang, Banten, Rabu 11 Oktober 2017. 

Selain mebel rotan sintetis, mangkuk-mangkuk etnis dari Kalimantan dan Papua juga diminati pasar asing. Bahkan  rumah fashion di NewYork Amerika Serikat juga tertarik menggunakan produk dari narapidana Indonesia. Mereka menawarkan kerja sama berupa pembuatan produk tas kulit yang akan dikerjakan napi Tanah Air.

Untuk mengimplementasikan kerja sama tersebut, lima narapidana bersama Yayasan Jera Foundation selaku pembina napi diundang ke New York pada bulan depan. 

"Untuk membuat produk unggul seperti tas dan ini dari kulit ini ada sponsornya dan kita diundang di New York untuk mengikuti semacam pertemuan dan melihat profil dari produk kita," ungkap dia.

Ketua Yayasan Jera Foundation Gusti Arief mengungkapkan, pihaknya memang mengembangkan potensi warga binaan dengan memberikan pelatihan kerajinan tangan dan furniture. Hingga kini sudah banyak produk warga binaan yang di ekspor ke luar negeri seperti furniture. 

"Dari program ini kita membina napi yang memiliki kreatifitas yang nantinya mereka ke depan tidak akan melakukan kesalahan lagi," ungkapnya.

Setiap narapidana mendapatkan uang dari produk yang dia hasilkan. Namun yayasan Jera enggan merinci lebih jauh omset dan keuntungan yang  diperoleh dari ekspor produk karya napi tersebut.

"Mereka ketika bekerja di dalam ketika menghasilkan akan mendapat premi dan berlangsung cukup lama. Jadi selisih penjualan kepada napi dan mereka akan ditabung uangnya dan bisa dikirimkan kepada orang tua," tutup dia.

TEI 2017 yang mengusung tema Global Partner for Sustainable Resources ini diikuti kalangan pengusaha dari 79 negara, yang direkomendasikan KBRI dan KJRI termasuk 100 delegasi bisnis dari Arab Saudi.

Adapun TEI 2017 menampilkan lebih dari 300 produk dan jasa di Indonesia. Semua produk dan jasa yang dipamerkan dibagi dalam 7 zona produk potensial dan unggulan nasional. Zona-zona tersebut adalah furniture and furnishing, fashion, craft and creative products, premium products, strategic industries, manufacturing products and services, food and beverages, dan province premium products.


(SAW)