Aksi Wait and See Kalangan Borjuis Bikin Daya Beli Melambat

Suci Sedya Utami    •    Senin, 07 Aug 2017 18:58 WIB
daya beli masyarakat
Aksi <i>Wait and See</i> Kalangan Borjuis Bikin Daya Beli Melambat
Illustrasi Daya Beli. MI/USMAN ISKANDAR.

Metrotvnews.com, Jakarta: Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat konsumsi rumah tangga sebagai instrumen pengukur daya beli tumbuh melambat dari 4,94 persen di kuartal I menjadi 4,95 persen pada kuartal II-2017 atau bahkan menurun dari kuartal yang sama tahun lalu 5,07 persen.

Padahal, Kepala BPS Suhariyanto mengatakan belanja pemerintah dalam hal transfer ke daerah atau cash transfer (bansos) cukup besar pencairannya. Dia menjelaskan, bansos diberikan untuk 40 persen masyarakat kelas menengah ke bawah agar mereka bisa belanja. Sehingga, masyarakat kelas tersebut tak mungkin memiliki kemampuan untuk saving. Dengan kata lain, daya beli pada golongan ini tak mungkin turun. Lantas, apa yang membuat daya beli melambat?


baca : Pemerintah Fokus Tingkatkan Daya Beli Masyarakat

Menurut dirinya, perlambatan konsumsi lebih dikarenakan masyarakat kelas menengah ke atas (borjuis/KBBI) yang memilih untuk saving atau tak membelanjakan uangnya ketimbang untuk belanja. Pasalnya, komponen industri yang menunjukkan adanya penurunan daya beli merupakan industri yang sasarannya masyarakat menengah ke atas seperti misalnya penjualan mobil dan kendaraan bermotor.

Namun di sisi lain, ada indikasi penahan belanja seperti meningkatnya jumlah akun tabungan yang menandakan masyarakat kelas tersebut memilih saving, atau bahkan investasi di pasar saham.

"Saya sih enggak percaya kelas atas daya belinya turun, artinya mereka memang sengaja menahan," kata Suhariyanto di kantor pusat BPS, Jakarta Pusat, Senin 7 Agustus 2017.

Kalangan borjuis, kata Suhariyanto, memilih untuk waspada terhadap kondisi perekonomian saat ini. Mereka lebih berhati-hati dan mencermati apa yang terjadi di perekonomian global.

"Yang pasti dengan kebijakan di AS yang membuat kita kaget-kaget, golongan ini lebih memilih wait and see," ujar dia.

Hal ini, kata Suhariyanto memang perlu diwaspadai, sebab jika semua orang memilih saving untuk jangka waktu yang lama maka dampak ke perekonomian pun tak bagus.

"Bisa dibayangkan mendekati 2018-2019 kalau situasi politiknya enggak bagus, perlu diwaspadai," jelas Suhariyanto.


 


(SAW)