Pemerintah Mulai Identifikasi Industri Tujuan Investasi Berorientasi Ekspor

Suci Sedya Utami    •    Jumat, 09 Feb 2018 17:32 WIB
target ekspor
Pemerintah Mulai Identifikasi Industri Tujuan Investasi Berorientasi Ekspor
Ilustrasi. (Foto: MI/Ramdani).

Jakarta: Menko Perekonomian Darmin Nasutio mulai mengidentifikasi sektor industri tujuan investasi yang berorientasi ekspor. Identifikasi tersebut dilakukan setelah Presiden Joko Widodo kecewa dengan kinerja ekspor Indonesia yang masih kalah dibandingkan dengan negara ASEAN lainnya.

Proses identifikasi tersebut pun dia laporkan dan diskusikan pada Wakil Presiden Jusuf Kalla. Dalam pertemuan bersama JK, Darmin mengatakan ada beberapa industri yang perlu dikembangkan dan berorientasi ekspor.

"Mungkin empat hingga lima industri yang berorientasi ekspor yang punya potensi besar. Kita akan rumuskan kebijakan untuk mendorong sehingga dia menjadi satu, untuk mendorong investasi dan ekspor secara cepat," kata Darmin di kantornya, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, Jumat, 9 Februari 2018.

Darmin pun mengakui problematika ekspor Indonesia ada dihilirisasi. Selama ini, Indonesia mengekspor dalam bentuk bahan mentah dari sumber daya alam (SDA), yang mana nilainya lebih rendah. Sementara, negara tetangga mengekspor dalam bentuk barang olahan yang nilainya jauh lebih tinggi, dan sudah tentu hasil ekspornya pun lebih dibanding Indonesia.

Darmin mengklaim, hasil dari hilirisasi yang relatif berhasil yakni pada SDA kelapa sawit dan turunannya yang dikenakan pajak ekspor dan pungutan lainnya, sehingga mau tak mau membuat eksportir menciptakan nilai tambah agar tak dikenai pungutan yang tinggi.




"Kalau CPO orang berusaha memprosesnya menjadi produk hilir supaya kena (pungutan) sedikit. Tapi kalau seperti smelter dan sebagainya kita belum sempat bicarakan seperti apa perkembangannya, tapi itu termasuk yang kita pelajari walaupun akan menjadi pilihan prioritas belum tentu itu," tutur dia.

Lebih lanjut, Darmin menambahkan, upaya pemerintah untuk meningkatkan ekspor yakni dengan mencari market baru melalui beberapa perjanjian bilateral denngan beberapa negara.

"Kita tetapkan beberapa prioritas untuk diselesaikan terutama Australia dengan Uni Eropa," jelas dia.

Presiden Jokowi sebelumnya mengungkapkan nilai ekspor Thailand telah mencapai USD231 miliar, kemudian susul Malaysia sebesar USD184 miliar dan Vietnam USD160 miliar. Sedangkan nilai ekspor Indonesia saat ini baru sekitar USD145 miliar.

Melihat angka-angka tersebut, Jokowi mengatakan ada yang salah dengan aktivitas ekpor yang selama ini dijalankan oleh Indonesia. Sebab dengan jumlah penduduk yang besar harusnya Indonesia bisa menghasilkan lebih banyak produk yang bisa diekspor ke negara lain. Jika rutinitas yang terkait dengan kegiatan ekspor ini terus dibiarkan dan tidak diubah menjadi lebih baik dan efektif, maka Indonesia akan tertinggal dari negara-negara antara lain Laos dan Kamboja.

"Oleh sebab itu Kementerian Perdagangan sangat berperan sekali terutama di satu hal tadi, ekspor. Tapi yang sangat jelas, kalau kita lihat angka-angka ekspor Indonesia sudah sangat kalah jauh tertinggal dengan negara-negara sekitar kita. Ini fakta dan angka itu ada. Dengan Thailand, dengan Malaysia, dengan Vietnam, kalah kita. Kalau kita terus-terusan seperti ini bisa kita kalah dengan Kamboja dan Laos," tandas dia.

 


(AHL)