Lampu Hijau Bisnis Perusahaan Pembiayaan di Tengah Perlambatan

Angga Bratadharma    •    Rabu, 12 Oct 2016 18:28 WIB
multifinance
Lampu Hijau Bisnis Perusahaan Pembiayaan di Tengah Perlambatan
Ilustrasi. (FOTO: AFP)

Metrotvnews.com, Jakarta: Ekonomi global masih mengalami ketidakpastian dan ujungnya memberi dampak buruk bagi pergerakan ekonomi Indonesia, terlihat dari laju pertumbuhan ekonomi yang tidak maksimal. Kondisi ini mempunyai efek domino dan juga memberikan tekanan terhadap bisnis industri perusahaan pembiayaan (multifinance).

Di sepanjang 2016, industri perusahaan pembiayaan diperkirakan hanya tumbuh sekitar satu persen secara year on year (yoy) sejalan dengan tidak menentunya perekonomian Indonesia. Hal itu juga memukul daya beli masyarakat diperparah dengan masih anjloknya harga komoditas di dunia.

Kinerja lini bisnis industri perusahaan pembiayaan di pembiayaan mobil dan motor pun masih terlihat lesu. Merujuk data Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI), penjualan sepeda motor diperkirakan akan tumbuh negatif yakni minus tujuh persen. Sedangkan penjualan mobil diperkirakan akan tumbuh di angka nol persen.

"Sementara untuk proyeksi penjualan alat berat minus 20 persen dan pembiayaan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) berada di angka satu persen," kata Ketua Umum APPI Suwandi Wiratno, kepada Metrotvnews,com, seperti diberitakan Rabu (12/10/2016).

Di tengah ketidakpastian ekonomi Indonesia, dibutuhkan kreativitas dan inovasi dari pelaku perusahaan pembiayaan untuk mengantisipasi jatuhnya pergerakan bisnis lebih dalam. Apalagi, ekonomi Indonesia diperkirakan masih akan mengalami perlambatan sehingga perlu ada alternatif 'mesin' pendorong bisnis perusahaan pembiayaan.

Strategi jitu seperti berbagai macam program yang mampu melirik calon nasabah hingga penawaran suku bunga rendah tentu menjadi di antara alternatif 'mesin' yang bisa diberlakukan oleh tiap perusahaan pembiayaan di Indonesia. Tentu keterlibatan pemerintah dan regulator terkait sangat dibutuhkan pada kondisi sekarang ini.

PT Mandiri Tunas Finance (MTF) menjadi salah satu perusahaan pembiayaan yang memanfaatkan kondisi yang tidak menentu sekarang ini dengan mencari celah dan peluang untuk bisa terus mempertahankan momentum pertumbuhan bisnisnya. Bahkan, MTF berani menawarkan tingkat suku bunga rendah kepada masyarakat melalui beberapa event.

MTF telah menerapkan program bunga murah seperti Bunga Pintar (2,55 persen) yaitu semakin tinggi uang muka atau Down Payment (DP) maka semakin murah bunga yang ditawarkan. Kemudian bunga nol persen selama enam bulan (regular), dan bunga nol persen selama satu tahun pada saat di GIIAS yang lalu.

Ketika ditanya soal polemik uang muka atau DP murah dan suku bunga rendah, Direktur Utama MTF Ignatius Susatyo mengatakan, MTF lebih memilih uang muka normal dengan tingkat suku bunga kompetitif. "Karena uang muka mencerminkan risiko. Lebih baik bunga kompetitif dan uang muka kita ikut saja ketentuan regulator," tegas Ignatius.

Tidak hanya itu, MTF juga memiliki sejumlah strategi lain yang sudah dilakukan dan hasilnya bisa terlihat di mana target bisnis bisa tercapai sampai kuartal III-2016 ini. Sampai akhir September 2016, MTF membukukan pertumbuhan pembiayaan baru sebanyak 11,84 persen secara tahunan (year to year) jika dibandingkan dengan periode yang sama 2015.

"Jadi hingga 30 September kemarin lending kita tumbuh Rp1,9 triliun jika dibandingkan dengan September tahun lalu. Secara year to date pembiayaan kita mencapai Rp13,4 triliun, lebih baik dari periode yang sama tahun lalu yang sebesar Rp11,9 triliun. Jadi ada pertumbuhan hampir 12 persen untuk lending kita," kata Ignatius.

Adapun sejumlah strategi yang digunakan adalah memanfaatkan peluang dalam pembiayaan multiguna, meningkatkan market share di merk-merk yang masih lemah penetrasinya, dan terus me-review portofolio kredit untuk sektor industri yang akan mengalami penurunan.

"Kita juga mengakuisisi nasabah BMRI yang potensial untuk ditingkatkan melalui program-program KKB, selain meningkatkan aliansi antarperusahaan anak Bank Mandiri untuk meningkatkan volume dan fee based," jelas Susatyo.

Salah satu yang gencar dilakukan antara lain promosi melalui fasilitas Mobile Apps MTF yang telah diluncurkan sejak akhir tahun lalu. Sejauh ini, fasilitas tersebut telah memberikan sumbangan pembiayaan hingga Rp150 miliar dari total Rp1,5 triliun atau lima persen aplikasi masuk dari referral Bank Mandiri.

Pada kesempatan terpisah, Direktur Utama Adira Finance Willy S Dharma menilai, masuknya dana dari program amnesti pajak atau pengampunan pajak akan  membuat Cost of Fund (CoF) perbankan mengalami penurunan. Apabila CoF ini turun maka dampaknya terhadap turunnya tingkat suku bunga perbankan, utamanya suku bunga pinjaman.

"Kalau sampai turun tingkat suku bunga maka baru dampaknya ke multifinance. Tentu nanti multifinance memiliki dampak juga dengan turunnya tingkat suku bunga. Ini tentu menguntungkan," kata Willy.

Lebih lanjut, Willy berharap, perbankan bisa segera menurunkan tingkat suku bunga pinjaman sebanyak 50 basis poin (bps) sampai dengan 100 bps dari adanya dana besar dari kebijakan pengampunan pajak. Namun, ia tidak menampik, dampak turunnya tingkat suku bunga itu tidak akan langsung terjadi karena melihat besaran dana yang masuk terlebih dahulu.

"Dampaknya tentu akan terasa. Tapi akan terlihat ketika realisasinya itu mulai kapan diberlakukan. Mungkin kalau pembayaran dilakukan sudah bisa dirasakan," tegas Willy.

Sementara itu, Direktur Buana Finance Herman Lesmana mengatakan, komoditas batu bara mulai sedikit mengalami perbaikan walau tidak terlalu signifikan. Namun, hal itu bisa menjadi petanda bahwa lini usaha alat berat di perusahaan pembiayaan bisa kembali menggeliat. Apalagi, ekonomi Tiongkok mulai pulih dan permintaan akan batu bara ke Indonesia mulai terlihat.

"Ada perbaikan di batu bara untuk enam bulan ke depan artinya tahun depan. Apalagi harga minyak diprediksi bisa ke USD60 sampai USD70. Kalau seperti itu sudah mulai positif. Kemudian nikel, emas dan CPO. CPI itu mulai mengalami perbaikan harganya. Jadi memang perlu ada diversifikasi dan tidak di satu titik. Manufaktur juga kita sudah mulai," kata Herman.

Herman tidak menampik kondisi ekonomi yang melambat sekarang ini memberi dampak terhadap pencapaian target bisnis. Dirinya memperkirakan target pembiayaan hanya mencapai sekitar 85 persen sampai 90 persen dari total pembiayaan sebesar Rp2,5 triliun sampai akhir 2016 ini.

"Total target pembiayaan sebesar Rp2,5 triliun mungkin hanya tercapai 85-90 persen atau sekitar Rp2,2 triliun hingga Rp2,3 triliun. Tidak penuh memang tapi bisa saja kalau ada keajaiban," ungkap Herman.

Sementara itu, Deputi Komisioner Pengawas Industri Keuangan Non Bank (IKNB) Dumoly F Pardede menegaskan, OJK secara maksimal mendorong pertumbuhan bisnis perusahaan pembiayaan. Salah satu upaya yang dilakukan adalah melakukan perluasan lini usaha yakni lini usaha pembiayaan investasi dan lini usaha modal kerja, yang sebelumnya tidak bisa dimasuki.

"Teman-teman di perusahaan pembiayaan baru 10 persen yang baru masuk ke pembiayaan investasi dan modal kerja. OJK sudah melakukan segala upaya dan kerja keras membentuk pokja-pokja untuk mendorong perusahaan pembiayaan tumbuh. Kalau POJK Nomor 29 dilakukan dari dulu maka saya rasa POJK ini tidak akan ada masalah saat ini," kata Dumoly F Pardede.

Sekadar diketahui, Peraturan OJK Nomor 29/POJK.05/2014 tentang Penyelenggaraan Usaha Perusahaan Pembiayaan diterbitkan guna mendukung perkembangan perusahaan pembiayaan yang dinamis dan mewujudkan industri perusahaan pembiayaan yang tangguh, kontributif, inklusif, serta berkontribusi untuk menjaga sistem keuangan yang stabil dan berkelanjutan.


(AHL)