Sampoerna Perkuat Sektor Agro-Industri untuk Tingkatkan Daya Saing

Ekawan Raharja    •    Kamis, 13 Oct 2016 11:17 WIB
hm sampoerna
Sampoerna Perkuat Sektor Agro-Industri untuk Tingkatkan Daya Saing
Presiden Direktur Sampoerna Paul Janelle bersama Menlu Retno Marsudi di TEI 2016. (FOTO: dokumentasi Sampoerna)

Metrotvnews.com, Jakarta: PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) berkomitmen terhadap sistem produksi terpadu. Sistem produksi pertanian yang berkesinambungan, termasuk di sektor tembakau dan cengkih, merupakan kunci pembangunan sektor pertanian berdaya saing tinggi yang mampu menyejahterakan para petani Indonesia.

Melalui Sistem Produksi Terpadu, Sampoerna melalui para pemasoknya memperkenalkan dan menerapkan sistem produksi tembakau yang produktif, berdaya saing, efisien, sekaligus menjaga dan meningkatkan kondisi lingkungan. Salah satu contohnya melalui program efisiensi pengeringan, penggunaan biomassa alternatif, program reforestasi serta penanaman bambu yang berkesinambungan, serta program daur ulang CPA.

Tak hanya itu, para petani juga mendapatkan pendampingan pertanian, akses permodalan, sarana dan prasarana pertanian, serta jaminan akses pasar yang sangat diperlukan oleh petani.

"Sampoerna bisa mendapatkan jaminan pasokan tembakau yang sesuai dengan kuantitas dan kualitas yang diinginkan. Sementara itu, para petani juga memperoleh jaminan bahwa tembakau yang mereka tanam akan diserap seluruhnya dan dibayarkan dengan harga yang disepakati. Kami berharap program ini dapat didukung oleh kementerian terkait agar kesejahteraan petani tembakau terus meningkat dan pada saat yang bersamaan dapat meningkatkan pasokan tembakau dalam negeri untuk keperluan industri," jelas Presiden Direktur Sampoerna Paul Janelle, dalam siaran persnya, di Jakarta, Kamis (13/10/2016).

Menurut dia, sistem ini telah diperkenalkan Sampoerna kepada 27 ribu petani yang memiliki total lahan 22,7 ribu hektare (ha) persegi yang tersebar di beberapa daerah penghasil tembakau di Indonesia, termasuk Rembang, Lombok, Wonogiri, Malang, Jember, Blitar, dan Lumajang.

"Saya bersyukur dapat berpartisipasi dalam program ini. Program kemitraan ini berhasil meningkatkan kualitas tanaman tembakau, karena ada pendampingan dan edukasi saat bercocok tanam. Tidak hanya itu, hal ini terasa pada saat waktu panen, dimana ada jaminan dari sisi pembelian, karena ketika kualitas tembakau baik maka tembakau saya terbeli semua," tambah Petani Tembakau asal Rembang Purwoto.

Saat ini Indonesia menjadi penghasil tembakau terbesar kelima di dunia. Data Kementerian Pertanian (Kementan) selama lima tahun terakhir menunjukkan, rata-rata produksi tembakau selalu di bawah 200.000 ton per tahun, sementara permintaan tembakau berkisar 320.000 ton per tahun.

"Program Sistem Produksi Terpadu mencerminkan komitmen perusahaan melakukan pemberdayaan petani tembakau, mulai dari peningkatan produktivitas hingga kesejahteraan petani. Program ini sekaligus mendorong integrasi petani mitra program ke dalam rantai pasar regional dan global untuk meningkatkan daya saing," tutup Paul.


(AHL)